logo


Penyebab Anies-Sandi Menang, Musuh Lengah di Lima Hal Berikut

Ahok-Djarot gagal mengakomodir pemilih baru. Seperti diketahui, pada putaran kedua jumlah pemilih meningkat satu persen dari 77 menjadi 78.

23 April 2017 07:00 WIB

istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Konsultan politik pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno asal Polmark Indonesia, Eep Saefullah Fatah menyimpulkan setidaknya ada lima hal yang menyebabkan Ahok kalah.

Yang pertama adalah terkarantinanya jumlah suara pemilih Ahok-Djarot. Tak ada penambahan suara yang berarti, bahkan penurunan suara hingga 14 ribu justru diterima pasangan petahana tersebut.

Jumlah suara yang didapat Ahok-Dajrot itu pun sudah ditambah dari jumlah pemilih Agus-Sylvi pada putaran pertama.


Kalah-Menang Bagi PDIP Hal Bisa, Terpenting yang Untung Warga Jakarta

"Ketika suara agregator tersebut berkurang, berarti ada pemilihnya pergi. Jadi itu yang dimaksud dengan terkarantina. Tidak membesar, tidak mengecil. Segitu-gitu saja, bahkan berkurang 14 ribuan pemilih," ucap Eep di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, (22/4) dalam sebuah diskusi.

Kedua, Ahok-Djarot gagal mengakomodir pemilih baru. Seperti diketahui, pada putaran kedua jumlah pemilih meningkat satu persen dari 77 menjadi 78. Sayangnya, penambahan satu persen jumlah pemilih itu justru diambil seluruhnya oleh pasangan Anies-Sandi.

"Kenapa kok suara Basuki-Djarot mengalami penurunan? Ternyata partisipasi di Basuki-Djarot itu justru turun, sedangkan partisipasi pasangan Anies-Sandi naik," ungkap Eep menjelaskan.

Faktor terpenting yang membuat Ahok-Djarot kian terpukul dari sisi perolehan jumlah suara adalah terkait bagi-bagi sembako yang dilakukan di menit-menit terakhir.

"Saya kok menduga secara kualitatif bahwa hujan sembako itu berfungsi secara negatif untuk pihak yang berkampanye. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka yang membagikan sembako pada masa tenang itu berani menggunakan baju kampanye, bahkan ditemani partai," kata Eep terheran-heran.

Bagi Eep, bagi-bagi sembako atau hal lainnya di masa tenang adalah praktek pemenangan kuno yang banyak dikenal dengan istilah serangan fajar. Eep pun menegaskan, sesungguhnya cara tersebut sudah tak lagi modern dan sudah selayaknya ditinggalkan.

"Itu cara zaman dulu banget. Sudah, cara kemarin jangan dipakai lagi. Belajar dari itu, lebih baik berkompetensi dengan sehat," ujar konsultan tim pemenangan Anies-Sandi tersebut.

Faktor keempat, kata Eep adalah di Tempat Pemungutan Suara (TPS) terjadi peningkatan pada paslon nomor tiga dibandingkan paslon nomor dua, yang tadi tidak seimbang menjadi seimbang. Selain itu, faktor agama juga menjadi salah satu faktor pemilih Ahok-Djarot mengalami penurunan.

"Namun hanya berkisar 22 persen. Selebihnya jumlah pemilih di Jakarta 78 persen memilih dengan alasan lain," sahut Eep menyudahi.

Dapat Dukungan PPP-PKB dan Pemilih Agus, Suara Ahok Justru Melorot

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah