logo


Arcandra: Pengembangan EBT di Laut Menekan Cost Jadi Murah

Arcandra menginginkan pembuatan desain teknologi dengan Amdal minimum, izin minimum, dan masalah sosial minimum

20 April 2017 19:43 WIB

Archandra Tahar menjawab wartawan usai dirinya dilantik sebagai Menteri ESDM oleh Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (27/7) siang.
Archandra Tahar menjawab wartawan usai dirinya dilantik sebagai Menteri ESDM oleh Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (27/7) siang. setkab.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar, mengaku menerima banyak laporan berupa keluhan dari pihak pengembang terkait perizinan yang rumit untuk membangun Energi Baru Terbarukan (EBT) di daerah terpencil, terluar, terdepan, dan terlupakan.

Dalam hal ini, Arcandra mengaku sudah menyiapkan solusi untuk pengembang dan investornya untuk menyelesaikan kesulitan masalah persyaratan ketat seperti Amdal, masalah sosial, dan izin dalam pengembangan EBT tersebut.

Arcandra menginginkan pembuatan desain teknologi dengan Amdal minimum, izin minimum, dan masalah sosial minimum. Teknologi tersebut sudah pasti yang dibangun di laut.


Bertemu Jokowi, Alumni ITS Sampaikan Hasil FGD Kemaritiman dan Energi

"Karena masalah sosial tidak mungkin ada jika EBT dibangun di laut. Amdal di laut pasti bisa dan soal izin, izin di laut dengan di darat sudah pasti laut yang lebih mudah diizikan," ujarnya, dalam acara Bimasena Energy Security Dialogue, Mewujudkan Program Nawa Cita, di Hotel Darmawangsa, Jakarta, Kamis (20/4).

Mengenai konsep sebelumnya, Arcandra menjelaskan bahwa pembangunan EBT di laut yang menggunakan skema LNG cair yang ditransfer ke floating storage untuk dijadikan gas. Setelah itu ditransfer kembali melalui jetty ke bangunan pembangkit yang ada di darat.

"Sudah jelas jika skema seperti itu pembangunan EBT akan menelan biaya mahal, dan tidak cocok untuk daerah tertinggal. Nah, desain teknologi harus diubah. Desain saya tidak seperti itu. Saya mau bangunan pembangkit dipindahkan langsung ke laut supaya transfer LNG cair bisa langsung ke pembangkit tanpa harus melewati jetty karena costnya mahal. Artinya, kriteria desain next yang saya butuhkan seperti itu, pembangkit dipindahkan ke laut," terangnya.

Selain itu, lanjutnya, selama ini pengembangan EBT yang pembangkitnya sudah di laut dan tidak lagi pakai jetty juga memerlukan breakwater dan sebagainya. Breakwater juga dinilai mahal untuk daerah terpencil. 

Mengenai pembangkit di laut yang langsung mentransfer LNG dan menjadi listrik tanpa melalui jetty, Arcandra sangat yakin bahwa teknologi tersebut ada dan bisa dibangun di dalam negeri.

"inilah suatu cita-cita di mana anak bangsa harus bisa mencari teknologi sesuai kriteria supaya pengembangan EBT dengan cost murah bisa dilakukan dan tidak lagi membebani PLN dengan teknologi yang mahal," paparnya.

Indonesia Berkomitmen Kuat Kembangkan Energi Terbarukan

Halaman: 
Penulis : Garry Talentedo Kesawa, Ratna Wilandari