logo


Mentan Tak Gentar Jika Uni Eropa Larang Peredaran Kelapa Sawit Indonesia

Indonesia oleh parlemen Uni Eropa bahkan dilarang untuk mengekspor sawit dan biodiesel ke negara lain.

12 April 2017 15:34 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. JITUNEWS/Latiko A.D

SEMARANG, JITUNEWS.COM - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, berang terhadap Parlemen Uni Eropa. Tak main-main, Amran mengancam akan mengevaluasi ekspor sawit dan biodiesel berbasis sawit ke negara-negara Eropa tersebut.

"Kalau ada kerja sama yang telah kami tandatangani, kami evaluasi," tegas Amran di Semarang, Rabu (12/4/2017).

Sebelumnya, menurut parlemen Uni Eropa, sawit di Indonesia dinilai masih menciptakan banyak masalah mulai dari deforestasi, korupsi, pekerja anak-anak, sampai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Indonesia oleh parlemen Uni Eropa bahkan dilarang untuk mengekspor sawit dan biodiesel ke negara lain.


Menteri Luhut: Industri Kelapa Sawit Harus Dilindungi

Amran menegaskan pasar ekspor sawit Indonesia bukan cuma di Eropa. Oleh karena itu, dia tidak gentar jika negara-negara Uni Eropa sepakat melarang sawit Indonesia beredar di pasar-pasar Eropa. Bahkan sebaliknya, Amran akan akan meminta pelaku-pelaku eksportir kelapa sawit menghentikan ekspornya ke Eropa.

"Indonesia jangan mau didikte sama Uni Eropa. Kalau perlu hentikan ekspor sawit kita ke sana," katanya lagi.

"Harus diingat, sekarang ini kita konversi ke biofuel B-20 sebanyak 3,2 juta ton, sementara Eropa mengimpor 7 juta ton. Kami telah minta ke seluruh eksportir jatah yang dikonversi biofuel nggak usah di ekspor ke sana. Berikutnya kita masih punya B-30 dan itu kita butuh 13 juta ton. Artinya ekspor kita nanti berkurang karena kita jadikan biodiesel," tambah Amran.

Untuk itu, Amran menegaskan bahwa masalah sawit merupakan urusan pertanian dalam negeri. Ia mewanti-wanti agar negara-negara Eropa tidak mencampuri kebijakan pertanian Indonesia. Pasalnya, menurut Amran, Indonesia saat ini telah memiliki standar sertifikasi produk sawit dan turunannya atau yang dikenal Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Selain memiliki ISPO, Indonesia juga telah melakukan kerja sama dalam hal sertifikasi produk sawit dengan Malaysia melalui Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).

"Indonesia punya standar sendiri, yakni Indonesian Sustainable Palm Oilm (ISPO). Masa (sawit) kita yang punya, dia yang mau buat standarnya. Itu cerita mana,"tegasnya.

Amran mengaku tidak takut jika harus mengevaluasi beberapa kerja sama dengan negara-negara Eropa khususnya Perancis. Pasalnya, Indonesia memiliki posisi yang kuat dalam hal produksi minyak sawit dunia. Bahkan, jika digabung Indonesia dengan Malaysia menguasai 80 produksi CPO dunia.

Gamal Nasir: Kelapa Sawit Akan Menjadi Masa Depan Perkebunan Indonesia

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Nugrahenny Putri Untari