logo


Intimidasi Terhadap Novel Baswedan Berkaitan dengan E-KTP?

Kasus E-KTP telah masuk ke tahapan sidang di pengadilan. Jika melihat berbagai dakwaan para tersangka, sejumlah nama elit politik ditengarai terlibat dalam kasus itu.

11 April 2017 09:57 WIB

Penyidik KPK Novel Baswedan mengalami tindakan intimidasi fisik oleh orang tak dikenal, Selasa (11/4/2017) usai menunaikan Shalat Subuh
Penyidik KPK Novel Baswedan mengalami tindakan intimidasi fisik oleh orang tak dikenal, Selasa (11/4/2017) usai menunaikan Shalat Subuh Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, mengalami tindakan intimidasi fisik pada hari Selasa, tanggal 11 April 2017 usai menunaikan Sholat subuh di sebuah Masjid yang tak jauh dari rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dua orang tak dikenal tiba-tiba datang menghampiri Novel dan menyiramkan air keras ke wajah Novel. Kejadian itu membuat Novel harus dilarikan ke RS Mitra Keluarga.

Pelaku masih dalam pengejaran pihak Kepolisian saat ini. KPK juga belum memastikan apakah peristiwa itu berkaitan dengan pekerjaan Novel sebagai penyidik ataukah peristiwa kriminalitas biasa. Namun, jika dilihat dari berbagai kejadian yang menimpa Novel, sulit dibantah kejadian tersebut tidak berkaitan dengan urusan Novel sebagai penyidik KPK.

Novel memang merupakan salah satu penyidik KPK yang beberapa waktu belakangan menjadi buah bibir publik. Ia mendapat 'hukuman ringan' dari KPK berupa surat peringatan yang ditandatangani Ketua KPK Agus Rahardjo. Surat peringatan itu ditandatangani Agus pada tanggal 14 Maret 2017.


Profil Andi Narogong, Sang Pengijon Skandal e-KTP yang Hanya Tamatan SMP

Novel dituding melanggar Peraturan KPK Nomor 10 tahun 2016 tentang Disiplin Pegawai dan Penasihat KPK dengan tuduhan menghambat pelaksanaan tugas dan melakukan perbuatan yang bersifat keberpihakan.

Hal yang menarik ialah keluarnya surat peringatan itu bersamaan dengan keukeuhnya upaya Novel untuk menyidik dugaan korupsi pengadaan E-KTP. Di tangannya lah Andi Narogong, kontraktor dan makelar proyek E-KTP dicokok.

Kasus E-KTP telah masuk ke tahapan sidang di pengadilan. Jika melihat berbagai dakwaan para tersangka, sejumlah nama elit politik ditengarai terlibat dalam kasus itu. Aliran duit E-KTP diduga mengalir hingga ke DPR dan Partai Politik. Di Senayan, nama Ketua DPR RI, Setya Novanto, juga ikut terseret kasus itu. Namanya muncul dalam dakwaan tersangka Irman, mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri, saat sidang perdana kasus dugaan korupsi pengadaan E-KTP, awal bulan Maret yang lalu.

Novel sendiri sebenarnya bukan baru sekarang mengalami intimidasi fisik. Sebelumnya, ia pernah ditabrak kendaraan. Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan, soal intimidasi, hampir semua penyidik KPK pernah mendapat ancaman-ancaman intimidatif dari pihak luar. Namun, Febri mengatakan, berbagai ancaman itu sama sekali tidak mempengaruhi kerja KPK dalam pengusutan berbagai kasus korupsi yang ditanganinya.

"Intimidasi sering. Itu tidak menghentikan KPK mengusut kasus-kasus yang sedang ditangani," kata Febri, akhir Maret lalu.

Aksi Intimidasi Dikecam

Bentuk intimidasi apapun terhadap KPK tetap saja tidak dibenarkan. Apalagi jika demi kepentingan penghentian pengusutan kasus korupsi. Oleh karena itu, motif dari setiap intimidasi perlu diusut secara tuntas dan dibuka ke publik.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Benny Kabur Harman, menegaskan, aparat keamanan perlu segera mendalami dan menangkap pelaku intimidasi terhadap KPK.

"Terkait kasus Novel ini, saya minta penegak hukum untuk mengusutnya secara tuntas apa yang menjadi motif dan tujuannya. Apakah motif balas dendam atau motif lain misalnya untuk meneror KPK yang kini sedang menangani kasus mega korupsi seperti kasus pengadaan EKTP yang melibatkan sejumlah pejabat dan mantan pejabat penting di negeri ini," kata Benny via pesan singkat, Selasa (11/4/2017).

Benny juga memberi dukungan kepada KPK untuk tetap on the track dan serius mengusut berbagai kasus yang melibatkan berbagai oknum pejabat negara saat ini.

"KPK tidak perlu gentar atau takut dengan peristiwa ini, rakyat di belakang KPK. Kita tuntut negara segera hadir untuk mengawal KPK agar tetap teguh memberantas korupsi tanpa pandang bulu!" pungkas Benny.

Hari Ini Sidang Kasus e-KTP Hadirkan 8 Saksi

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas