logo


Teten Masduki Soroti Angka Kekurangan Gizi yang Masih Tinggi

Di beberapa daerah, masih banyak anak yang belum tumbuh normal.

10 April 2017 14:39 WIB

Kepala Staf Presiden Teten Masduki.
Kepala Staf Presiden Teten Masduki. setkab.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kepala Staf Presiden, Teten Masduki, mengatakan permasalahan tingginya angka stunting (kurang gizi) harus segera diselesaikan. Pasalnya, sampai saat ini angka stunting yang ada di Indonesia cukup tinggi.

"Kalau kami ke daerah, selalu bertemu anak-anak kurus-kurus, pendek-pendek. Sudah kelas 6, tapi (badannya) kecil. Karena itu, gerakan kesehatan masyarakat dalam hal ini memperbaiki konsumsi gizi lewat makan ikan, saya kira menjadi hal yang sangat penting," kata Teten dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Senin (10/4/2017).

Teten menambahkan, pergerakan masyarakat makan ikan juga telah menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Menurutnya, kuis yang sering dibuat presiden dengan menanyakan nama-nama ikan adalah salah satu bentuk cara presiden untuk menggerakkan masyarakat mengonsumsi ikan.


Ini Ikan Laut Unggulan Sektor Perikanan, Kakap Putih

"Itu cara beliau (presiden) untuk mulai mengingatkan masyarakat Indonesia terutama anak-anak bahwa 70 persen Indonesia ini adalah laut, dan di situ sebenarnya gudang protein kita yang paling besar," ujar Teten lagi.

Teten mengaku ironis terhadap tingkat konsumsi ikan Indonesia yang dinilai masih rendah. Ia menyayangkan Indonesia masih mengimpor sapi dari luar ketika Indonesia memiliki ikan yang berlimpah sebagai sumber protein.

"Kita ini sekarang mengimpor 1,73 juta ekor sapi per tahun. Pada 2019 kita butuh empat juta ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi protein kita. Untuk bisa memenuhi empat juta ekor sapi per tahun, kita harus mempunyai indukan sebesar 20 juta indukan. Sekarang katakanlah kita punya 12 juta, kita perlu impor lagi sebanyak 8 juta ekor sapi. Satu ekor sapi butuh 2 hektare tanah sehingga akan terjadi deforestasi. Oleh karena itu, ikan menjadi kebutuhan yang sangat penting," ungkap dia.

Dalam skenario 100 tahun Indonesia pada 2045, presiden mencanangkan Indonesia bisa unggul dalam persaingan dunia, termasuk di bidang industrialisasi bidang jasa. Targetnya, tahun 2045, pendapatan per kapita Indonesia dapat menyamai negara maju.

Indonesia menargetkan konsumsi ikan tahun 2019 sebesar 54 kg per kapita. Konsumsi ikan di seluruh daerah di Indonesia terutama di pulau Jawa yang masih rendah harus digenjot.

"Di Jawa konsumsi ikan masih 32 kg per kapita, kalau di Sumatera dan Kalimantan jauh lebih baik, antara 32 sampai 43 kg per kapita per tahun. Di (Indonesia bagian) timur 40 kg per tahun. Jadi kita sudah tahu di mana kampanye gerakan makan ikan ini harus ditingkatkan," tukasnya.

Jadi Buruan Kapal Asing, Ikan Laut Ini Harganya Setara Alphard!

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Nugrahenny Putri Untari