logo


BNPB Jajaki Kerjasama dengan Jepang Kembangkan Teknologi untuk Memprediksi Gempa

Untuk penjajakan pengembangan teknologi prediksi gempa tersebut, lanjut Sutopo, BNPB akan bekerjasama dengan BMKG, BIG, BPPT, perguruan tinggi dan institusi lainnya.

8 April 2017 03:15 WIB

Ilustrasi gempa bumi.
Ilustrasi gempa bumi. uniqpost.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Gempa bumi menjadi salah satu ancaman bencana besar di Indonesia. Dan hingga kini, prediksi gempa secara pasti masih menjadi masalah. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, hingga saat ini prediksi gempa belum bisa dipastikan secara detail.

Terkait hal ini, Earthquake Prediction Research Centre Japan (EPRC) telah mengembangkan teknologi yang memungkinkan kita memprediksi gempa dan tsunami sebagai bencana susulan. Hal ini mendorong BNPB berkepentingan untuk menerapkan teknologi tersebut sebagai upaya peringatan dini.

"Teknologi yang dimaksud adalah gabungan teknologi canggih seperti satelit, radar, GPS sensor dan peralatan pendukung lain seperti pendeteksi gelombang elektromagnetik. Di samping itu, dukungan teknologi ini tentu disertai beragam data seperti tinggi muka air," ujar Sutopo Purwo, di Jakarta, Jumat (7/4) kemarin.


BNPB: Indonesia Terancam Bencana Dahsyat Lagi

Dalam prosesnya, kata Sutopo, data yang digunakan berasal dari data yang diperoleh dari satelit milik Amerika Serikat, Rusia, Jerman dan Jepang. Beragam data tersebut kemudian diolah dan dianalisis dengan supercomputer artificial intelligence.

Adapula harapan dari pengembangan teknologi ini yaitu terwujudnya International Surface Artificial intelligence Communicator (ISACO). Nantinya, setiap orang yang berada di wilayah rawan bencana akan mendapatkan informasi potensi ancaman gempa.

"Email peringatan dini dapat diakses melalui smartphone yang memberitahukan 1 hari jelang gempa berkekuatan 5 atau lebih terjadi. Namun demikian, pengetahuan risiko dan kesigapan untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi juga sangat penting dipahami oleh setiap individu," jelasnya.

Analisis dari teknologi yang digunakan ini menunjukkan hasil yang mencengangkan. Persentase akurasi dalam kurun waktu 3 tahun (1 Februari 2013 s.d 31 Januari 2016) menunjukkan nilai tinggi. Gempa dengan kekuatan magnitude 6 terjadi 38 kali dan terdeteksi sebelum gempa terjadi sebanyak 31 kali atau akurasi mencapai 82%. Gempa dengan magnitude 5 – 5,9, nilai akurasi sebesar 77%.

Pada prosesnya, pihak EPRC tidak akan membebankan biaya kepada Pemerintah Indonesia apabila teknologi tersebut diterapkan di Indonesia. Karena EPRC memiliki tujuan yaitu menganalisis data besar dan menggunakan teknologi yang dipunyai untuk meminimalkan dampak gempa bumi dan berkontribusi untuk menyelamatkan lebih banyak umat manusia di dunia.

Untuk penjajakan pengembangan teknologi prediksi gempa tersebut, lanjut Sutopo, BNPB akan bekerjasama dengan BMKG, BIG, BPPT, perguruan tinggi dan institusi lainnya.

Sekedar informasi, saat ini lebih dari 184 juta masyarakat Indonesia terpapar potensi gempa bumi pada kategori sedang hingga tinggi. EPRC juga berkeinginan untuk membantu Indonesia karena memiliki karakteristik dimana berada dekat dengan lempeng tektonik.

BNPB Tak Yakin Pemerintah Mampu Padamkan Seluruh Titik Api

Halaman: 
Penulis : Garry Talentedo Kesawa, Riana