logo


Laba Meriah dari Burung Coturnixcoturnix

Peluang yang seakan tidak terbatas inilah yang dimanfaatkan oleh Tukiman, warga Desa Bade Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali ini untuk beternak burung yang memiliki nama latin Coturnixcoturnix.

5 April 2017 16:16 WIB

Peternak Burung Puyuh dari Boyolali ini masih mengalami kendala modal usaha
Peternak Burung Puyuh dari Boyolali ini masih mengalami kendala modal usaha ROFIQ FOR WEBSITEDESA

Boyolali, JITUNEWS.COM -  Burung puyuh merupakan salah satu rumpun unggas lokal Indonesia yang mempunyai sebaran geografis hampir di seluruh nusantara. Puluhan olahan makanan dapat dibuat dari telur dan burung puyuh dewasa sehingga membuat pecintanya seolah ketagihan dengan gurihnya daging serta telur burung puyuh ini.

Peluang yang seakan tidak terbatas inilah yang dimanfaatkan oleh Tukiman, warga Desa Bade Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali ini untuk beternak burung yang memiliki nama latin Coturnixcoturnix.

Tukiman memanfaatkan halaman belakang rumahnya untuk beternak tidak kurang dari 1000 burung puyuh. Tukiman telah empat hingga lima tahun beternak burung puyuh. Keuntungannya mencapai delapan ratus ribu rupiah per bulan dari usahanya ini namun sayangnya usaha peternakan burung puyuhnya ini masih memerlukan banyak bantuan dari pihak-pihak terkait untuk semakin besar karena dia menggunakan sistem bagi hasil kepada yang dia sebut sebagai “juragane”.


Kenalkan Seni Karawitan Sejak Dini, Sudarta : Daripada Liburan Pada Main di Sungai

Tukiman mengatakan, dia mendapatkan pakan,vitamin serta obat-obatan dari “juraganne” tersebut dengan sistem pembayaran setelah burungnya menghasilkan telur dijual kepada “juraganne” dipotong dengan biaya pembelian pakan,vitamin dan obat-obatan. Keuntungan yang di dapatkan Tukiman semakin kecil tatkala ada kenaikan harga pakan,vitamin dan obat untuk burung puyuhnya. “Alhamdulilah, sampai saat ini belum pernah terkena wabah penyakit yang mengakibatkan kerugian besar,” ujar Tukiman.

Dalam sekali panen telur burung puyuh, Tukiman bisa mendapatkan sekitar lima ribu telur puyuh. Burung puyuh akan menghasilkan telur apabila berusia lima hingga enam minggu dan dapat dipanen hampir setiap hari selama kurang lebih dua bulan. “Sampai saat ini perbandingan antara jumlah telur dan burung puyuh yang menghasilkan telur mencapai 80-85% dari keseluruhan burung,”jelas Tukiman. Tukiman mengambil telur burung puyuh setiap pagi hari.

Tukiman mendapatkan keuntungan tidak hanya dari menjual telur burung puyuh namun juga menjual burung puyuh jantan dan betina yang telah afkir. Burung puyuh yang telah berhenti menghasilkan telur atau yang kerap disebut afkir akan dijadikan berbagai jenis masakan, pada umumnya akan menjadi burung puyuh goreng atau bakar yang kerap disajikan di warung hik dan kedai kaki lima lainnya.

Untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya, Tukiman selain beternak burung puyuh juga menjadi pengrajin tas. Usaha pembuatan tasnya tersebut diawali ketika dirinya bekerja di sebuah home industry yang sama di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Tukiman bekerja di sana sebagai karyawan selama kurang lebih sepuluh tahun lamanya. Empat tahun belakangan ini, Tukiman memutuskan untuk mengerjakan tas tersebut di rumahnya. Tukiman mengatakan semua model dan bahan baku dikirimkan oleh mantan bosnya tersebut mulai dari benang, kulit sintetis dan model yang akan dibuat. Tukiman mengirimkan tak kurang tigaribu hingga limaribu tas hasil produksinya setiap dua minggunya. Ongkos yang didapat untuk setiap tasnya berkisar dua ribu lima ratus hingga dua ribu tujuh ratus rupiah.

Dari hasil kedua usahanya tersebut, Tukiman berhasil menyekolahkan ketiga anaknya. Kini seorang anaknya sedang menyelesaikan studi di sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Kota Solo. Tukiman tetap berharap kedua usahanya semakin berkembang dan tidak lagi bergantung kepada pihak ketiga sehingga kesejahteraannya semakin meingkat.

UMKM Go Online Wujudkan Visi “Digital Energy of Asia”

Halaman: 
Penulis : Ellectrananda Anugerah Ash-shidiqq