logo


Kadang Permintaan Petani Melebihi Ketersediaan Pupuk Bersubsidi

Kelangkaan pupuk di tingkat petani saat musim tanam tiba tidak bisa dinyatakan bahwa pupuk tidak sampai atau tidak ada.

5 April 2017 14:32 WIB

Ilustrasi petani menanam benih padi.
Ilustrasi petani menanam benih padi. Gettyimages

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Politisi asal Demokrat Guntur Sasono menganggap keterlambatan atau tidak diterimanya pupuk bersubsidi oleh petani adalah sebuah hal yang normal. Mengapa demikian? Salah satunya adalah terkait dengan regulasi yang seharusnya menguatkan program tersebut.

"Kendalanya kadang karena regulasi," ucapnya kepada Jitunews.com di Gedung DPR MPR.

Tak terbagi secara merata pupuk bersubsidi menjadi kian normal jika melihat dari keterbatasan prouksi pupuk yang ditambah dengan musim-musim di mana petani terkadang berposisi membutuhkan pupuk dan terkadang tidak. Tak jarang, ucap Guntur, petani juga kerap melakukan spekulasi-spekulasi untuk mensiasati kondisi ketersediaan pupuk dan menghadapi musim tanam.


Diplomasi Kopi Presiden Jokowi

"Pada musim tertentu kadang-kadang petani bersikap tak butuh pupuk kadang butuh. Belum lagi petani kerap berspekulasi yang harus dimainkan menyikapi ketersediaan pupuk dan menghadapi musim," demikian ucap Guntur menambahkan.

Kelangkaan pupuk di tingkat petani saat musim tanam tiba tidak bisa dinyatakan bahwa pupuk tidak sampai atau tidak ada. Hal tersebut adalah bentuk akumulasi dari ketersediaan pupuk yang ada. Sehingga menjadi normal ketika ada permintaan petani yang tidak bisa keseluruhannya terpenuhi. Guntur lantas mengusulkan agar penggunaan pupuk organik digalakkan.

"Karena ada keterbatasan pupuk tadi, maka semua permintaan petani tidak semuanya bisa dipenuhi. Untuk mengatasi soal pupuk tersebut, maka perlu juga diambil alternatif penggunaan pupuk organik," kata anggota Komisi IV DPR RI itu.

Karena regulasi yang kurang mumpuni, prakteknya di lapangan petani banyak melakukan spekulasi dan kemungkinan-kemungkinan yang ada agar tetap bisa melakukan penanaman.

"Langkah petani tersebut kadang kala, ya karena sudah jelas ada keterbatasan produk serta kondisi musim yang tidak bisa terlalu dipegang. Makanya petani berinisiatif berspekulasi dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Sebetulnya petani telah menyampaikan kebutuhannya secara riil dan pemerintah juga sudah riil. Tapi masalahnya permintaan kerap lebih besar dari penyediaan, maka otomatis akhirnya menyebabkan kondisi berebut (pupuk)," sahutnya mengakhiri.

Harga Meroket, Pemerintah Didesak Stabilkan Harga Bawang Putih

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah
 
×
×