logo


NTP Skala Nasional Bulan Maret Turun, Pengamat: Petani Mengalami Defisit

Harga yang dibayar petani untuk menghidupi keluarganya lebih tinggi dibandingkan yang diterima.

4 April 2017 11:23 WIB

Potret petani Indonesia.
Potret petani Indonesia. Pixabay

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengamat Ekonomi Pertanian, Andi Sinulingga, mengatakan, ketika Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada bulan Maret 2017 mengalami penurunan, petani pasti mengalami defisit dan mengalami kerugian.

"Skemanya kan ketika NTP berada di bawah 100 maka kenaikan harga barang produksi relatif lebih kecil dibandingkan kenaikan harga barang konsumsinya. Dampaknya, pendapatan petani turun, lebih kecil daripada pengeluarannya," demikian kata Andi saat dihubungi Jitunews.com, Selasa (4/4/2017).

Lebih lanjut, ia mengatakan, harga yang dibayar petani untuk menghidupi keluarganya lebih tinggi dibandingkan yang diterima. "Hal ini tentunya sangat merugikan para petani," katanya lagi.


Selain Kurang Lahan, Petani Juga Butuh Pendampingan

Ia mengatakan ketika NTP berada di angka 99,95 berarti NTP tersebut sudah berada di bawah angka aman 100. Jadi, pengeluaran petani jauh lebih banyak daripada pemasukan yang mereka terima.

Seperti diketahui, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto, menyebutkan sepanjang bulan Maret terjadi penurunan NTP skala nasional sebesar 0,39 persen, sedangkan NTP sepanjang bulan Maret mencapai 99,95 atau berada di bawah angka normal.

Penurunan NTP ini dipicu oleh indeks harga yang diterima petani (It) turun 0,39 persen, lebih besar daripada penurunan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,01 persen. Catatan BPS, pada bulan Maret 2017, NTP Provinsi DKI Jakarta mengalami penurunan terbesar hingga 1,37 persen dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Papua Barat mengalami kenaikan tertinggi yakni 0,58 persen dibandingkan kenaikan NTP daerah lain.

Bersama Jokowi, Ganjar Pranowo: Dorong Modernisasi Pertanian

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Nugrahenny Putri Untari