logo


Jazuli Juwaini : Agama dan Politik Tak Bisa Dipisahkan

Pasalnya, tanpa peran agama, politik akan kehilangan basis moralitasnya.

30 Maret 2017 14:49 WIB

Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini.
Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini. pks.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat agar bisa memisahkan agama dengan politik ditanggapi Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini.

Jazuli menilai hubungan antara agama dan politik adalah satu kesatuan yang saling menguatkan. Pasalnya, tanpa peran agama, politik akan kehilangan basis moralitasnya.

"Agama apapun mengajarkan nilai etika dan moralitas, justru agama menjaga agar politik tetap beretika. Tanpa agama politik kehilangan basis moralitas," ujarnya di Gedung DPR RI Jakarta, Kamis (30/3/2017).


Disebut dalam Surat Dakwaan e-KTP, Jazuli Juwaini Mengaku Tidak Terlibat

Di lain pihak, kata Jazuli, keberpihakan politik (kekuasaan) terhadap implementasi nilai-nilai luhur agama dalam bernegara dengan sendirinya menjaga agama sebagai suluh bagi kehidupan, agar agama tetap memainkan peran vital dalam pembangunan bangsa.

"Bukankah itu yang menjadi ruh dan nafas kebangsaan kita? Kemerdekaan Indonesia dideklarasikan oleh pendiri bangsa, dalam pembukaan UUD, sebagai berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, sila pertama Pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa, dan konstitusi menjamin kemerdekaan beragama tiap-tiap penduduk," jelasnya.

Selain itu, dalam sejarah Indonesia juga terekam jelas bahwa yang melandasi kemerdekaan Indonesia adalah semangat agama, keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan dimotivasi oleh semangat jihad fi sabilillah.

"Perjuangan Indonesia merdeka itu dulu dilandasi dan dibingkai oleh semangat agama, jihad fi sabilillah. Bung Tomo dengan pekik takbirnya, KH Hasyim Asy'ari dengan resolusi jihadnya, termasuk laskar-laskar santri dengan semangat jihadnya," tandas Jazuli.

Oleh karenanya, Jazuli menilai bahwa agama tidak bisa dipisahkan dari semangat patriotisme bangsa dalam seluruh aspeknya termasuk di ranah politik. Jazuli menilai gagasan memisahkan agama dan politik secara ekstrem justru kontra produktif dan tidak sejalan dengan semangat kebangsaan.

"Jangan sampai pemisahan tersebut mengarah pada paham sekularisme, padahal kita bukan negara sekuler. Meski kita juga bukan negara agama, dalam arti hanya ada satu agama negara. Tapi sejalan dengan dasar negara dan konstitusi, kita adalah negara religius, yang mengamalkan nilai-nilai luhur (ajaran) agama dalam berbagai sendi kebangsaan termasuk dalam politik," tutupnya.

Merdunya Suara Iriana Jokowi Saat Bernyanyi Lagu Soleram di Pekanbaru

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Nugrahenny Putri Untari