logo


I Ketut Diarmita Imbau Peternak Perbaiki Manajemen Pemeliharaan Unggas

Rumah Pemotongan Ayam (RPA) telah melakukan penyimpanan dengan fasilitas lemari pendingin, hanya mampu menampung stok sebesar 15-20 persen dari total produksi.

30 Maret 2017 13:53 WIB

Dirjen PKH, I Ketut Diarmita (kiri).
Dirjen PKH, I Ketut Diarmita (kiri). pertanian.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Dirjen PKH Kementerian Pertanian(Kementan), I Ketut Diarmita mengimbau para peternak untuk memperbaiki manajemen pemeliharaan dan menerapkan prinsip-prinsip animal welfarebiosecurity dan treacibility, serta adanya modernisasi supply chain from farm to table.

I Ketut Diarmita menyampaikan, saat ini perusahaan yang memiliki Rumah Pemotongan Ayam (RPA) telah melakukan penyimpanan dengan fasilitas lemari pendingin, hanya mampu menampung stok sebesar 15-20 persen dari total produksi.

"Peternak mandiri maupun integrator saat ini sama-sama menjual ayam hidup, maka keduanya terjebak pada commodity trap (jebakan komoditas dimana harga tergantung pada permintaan suplai). Jika harga jatuh, peternak dengan modal kecil yang umumnya tidak memiliki cadangan dana akan mudah mengalami kebangkrutan," Ketut dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Kamis (30/3/2017).


Ini Langkah Kementan Atasi Gejolak Harga Daging dan Telur Ayam

Untuk itu, pemerintah telah mewajibkan bagi pelaku usaha dengan kapasitas produksi produksi paling sedikit 300.000 (tiga ratus ribu) per minggu harus mempunyai Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) yang memiliki fasilitas rantai dingin. Dengan demikian, angka penjualan ayam beku dapat ditingkatkan untuk mengurangi terjadinya commodity trap yang terjadi selama ini.

"Pemerintah melalui Ditjen PKH juga terus melakukan kampanye Ayam Dingin Segar yang sudah dilakukan di 20 titik untuk wilayah Jabodetabek saat ini," kata Ketut lagi.

Selain itu, Ditjen PKH terus mendorong perusahaan integrator untuk membuka pasar di luar negeri. Para pelaku industri perunggasan diharapkan dapat menjual produk daging ayamnya ke pasar di luar negeri, sehingga pasar dalam negeri dapat diisi oleh peternakan unggas rakyat.

Pihak Ditjen PKH menjelaskan, untuk daging ayam olahan, telah ada upaya untuk mendorong beberapa unit usaha pengolahan daging ayam yang telah memperoleh persetujuan dari Pemerintah Jepang untuk segera merealisasikan ekspornya.

Hal ini tentunya diharapkan dapat menyusul keberhasilan Indonesia ekspor ke PNG saat ini, dan sejak tahun 2015 Indonesia juga telah mengekspor telur ayam tetas (hatching eggs) ke Myanmar.

"Jika semua sudah berjalan sebagaimana mestinya, cara ini tentunya akan efektif untuk mengurangi gejolak harga yang tidak wajar," tukas Ketut.

Indonesia Sebagai Negara Agraris Harus Mempunyai Food Estate

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Nugrahenny Putri Untari