logo


Kembangkan Energi Terbarukan, ENGIE Group Investasi USD 1,25 Miliar di Indonesia

Tiga perjanjian kemitraan tersebut ditandatangani seiring dengan kunjungan Presiden Hollande ke Asia Tenggara, yang mencakup Singapura, Malaysia dan Indonesia, dari 26 sampai 29 Maret 2017.

30 Maret 2017 08:00 WIB

Didier Holleaux (Kiri), Executive Vice President Engie Group, setelah acara penandatanganan MoU dengan Bryse Gaboury, Ceo Electric Vine Industries, di Jakarta, Rabu (29/3)
Didier Holleaux (Kiri), Executive Vice President Engie Group, setelah acara penandatanganan MoU dengan Bryse Gaboury, Ceo Electric Vine Industries, di Jakarta, Rabu (29/3) Dok.Engie Group

JAKARTA, JITUNEWS.COM – ENGIE Group, pemain utama dalam industri energi global, Rabu (29/3), menandatangani tiga perjanjian kemitraan di Jakarta guna mendanai bersama, membangun, mengoperasikan dan mengelola jaringan mikro dan proyek energi terbarukan lainnya di berbagai wilayah di Indonesia, dengan nilai total investasi sebesar USD 1,25 miliar selama lima tahun ke depan.

Tiga perjanjian kemitraan tersebut ditandatangani seiring dengan kunjungan Presiden Hollande ke Asia Tenggara, yang mencakup Singapura, Malaysia dan Indonesia, dari 26 sampai 29 Maret 2017.

Didier Holleaux, Wakil Presiden Eksekutif ENGIE Group, mengatakan, tiga perjanjian kemitraan tersebut menegaskan kembali komitmen pihaknya kepada Indonesia guna mendukung penyediaan akses terhadap energi bagi seluruh pihak. Proyek-proyek tersebut, kata Didier, akan menjadi langkah signifikan bagi Indonesia guna mencapai target untuk mengurangi ketergantungan negara pada sumber energi yang berasal dari fosil, dan menyediakan listrik bagi 97 persen penduduknya pada tahun 2019.


Indonesia Perlu Investasi US$70-80 Miliar untuk Infrastruktur Gas Hingga 2030

“Strategi kami adalah untuk bekerja melalui kemitraan ekosistem guna mengembangkan dan menelaah energi terbarukan dan memberikan solusi teknologi rendah karbon yang inovatif untuk mengatasi tantangan energi yang khas dari negara ini,” ungkap Didier, di Jakarta, Rabu (29/3).

Sebagai informasi, ENGIE dan Sugar Group Companies akan mengembangkan berbagai proyek energi terbarukan. Perjanjian antara ENGIE dan Sugar Group Companies ini merupakan investasi bersama bernilai 1 miliar USD yang akan berlangsung selama lima tahun ke depan untuk mengembangkan pembangkit listrik fotovoltaik dan pembangkit listrik biomassa, dengan total kapasitas pembangkit listrik sebesar 500 megawatt di wilayah Sumatera dan Indonesia bagian timur.

Proyek ini akan memberikan kontribusi yang besar bagi pelaksanaan program nasional untuk mengurangi efek gas rumah kaca dan perubahan iklim, dengan perkiraan penghindaran karbon sebanyak 1,5 juta ton CO2e per tahun.

Taman panel surya di Sumatra dan Indonesia Timur akan memiliki total kapasitas pembangkit listrik sebesar 300 megawatt, termasuk didalamnya sebuah taman panel surya berkapasitas 140 megawatt di provinsi Lampung yang menjadikannya salah satu fasilitas tenaga surya terbesar di Asia Tenggara.

Sementara, pembangkit listrik biomassa dengan total kapasitas pembangkit listrik sebesar 200 megawatt akan memanfaatkan limbah pertanian serta bahan dari pembukaan lahan. Dengan demikian proyek ini akan memungkinkan Indonesia untuk mencapai target energi terbarukannya dan mengurangi polusi dari kegiatan pembukaan lahan.

Dalam perjanjian kemitraan ini, ENGIE dan Electric Vine Industries berencana bermitra guna mengembangkan, membiayai, membangun, mengoperasikan dan memelihara jaringan mikro fotovoltaik cerdas yang menyediakan listrik 24 jam penuh bagi 3.000 desa di Provinsi Papua selama 20 tahun.

Dengan proyek baru ini, sekitar 2,5 juta orang di seluruh Papua akan dapat menikmati energi yang bersih dan dapat diandalkan tanpa gangguan. Total investasi dimaksud diperkirakan sebesar USD 240 juta untuk lima tahun ke depan.

Sementara itu, ENGIE bersama PT Arya Watala Capital berkomitmen untuk menginvestasikan USD 15 juta selama tiga tahun k edepan guna mengembangkan total kapasitas pembangkit listrik hingga 10 megawatt peak (MWp) di Nusa Tenggara Timur, provinsi paling selatan di Indonesia. Proyek ini akan terletak di sepuluh daerah yang berbeda di pulau-pulau besar di provinsi tersebut seperti Timor Barat, Flores dan Sumba.

Seluruh perjanjian ini juga sejalan dengan semangat dari Terrawatt Initiative, sebuah organisasi nirlaba yang diluncurkan oleh ENGIE pada COP21, yang bertujuan untuk mempromosikan energi surya yang terjangkau dan menambah kapasitas produksi listrik tenaga surya fotovoltaik hingga lebih dari 1 terawatt antara tahun 2016 dan 2030.

Sebagai bagian dari kunjungan Presiden Hollande ke Asia Tenggara, ENGIE juga akan menandatangani empat perjanjian kemitraan lainnya di Malaysia dan Singapura untuk mengembangkan proyek energi terbarukan dan efisiensi energi di bidang energi surya, mobilitas hijau dan layanan manajemen fasilitas terpadu bagi sektor-sektor penting, solusi keamanan perkotaan dan solusi peraturan lalu lintas.

"ENGIE Indonesia berkomitmen untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan kepada salah satu ekonomi yang tumbuh paling cepat di dunia, melalui peningkatan pasokan energi dengan gas alam dan pembangkit lisrik terbarukan (panas bumi, tenaga surya, biogas), serta meningkatkan efisiensi energi dan memberikan solusi terhadap tantangan urbanisasi yang cepat. ENGIE sendiri telah memulai pembangunan di Indonesia melalui pembangkit listrik panas bumi dengan suhu tinggi pertama di dunia, Muara Laboh, yang juga merupakan proyek energi terbarukan pertama bagi ENGIE di negara ini," pungkas Didier.

Investasi dari Arab Saudi Siap Masuk ke Indonesia Hingga Rp 94,5 T

Halaman: 
Penulis : Riana