logo


Kementan Kembangkan Lamtoro Tarramba untuk Lahan Tidur di Perbatasan NTT - Timor Leste

Pengembangan lamtoro tarramba sangat penting karena akan menjadi Hijauan Makanan Ternak yang berprotein tinggi dan dapat dikembangkan di lahan tidur

23 Maret 2017 15:36 WIB

Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Kementan Ani Andayani.
Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Kementan Ani Andayani. Dok. Istimewa

NTT, JITUNEWS.COM - Kementerian Pertanian terus berupaya mencari terobosan untuk membangunkan lahan tidur yang terdapat di perbatasan NTT - Timor Leste yang meliputi Malaka, Belu, Timor Tengah Utara (TTU) dan Kupang. Pasalnya daerah - daerah tersebut memiliki musim kering yang relatif lebih panjang dibandingkan daerah lainnya.

Dalam kunjungan kerja ke NTT, Tim Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh Staf Ahli Menteri Bidang Infrastruktur Ani Andayani mengunjungi Kelompok Tani Setetes Madu di Desa Camplong yang mengembangkan tanaman lamtoro tarramba sebagai Hijauan Makanan Ternak (HMT).

Dalam sesi diskusi, Dermi salah satu Ketua Poktan, dengan bangga menceritakan ketertarikkannya mengembangkan lamtoro tarramba. Ia menceritakan bahwa gagasan penanaman lamtoro tarramba diprakarsai oleh BPTP Naibonat Kupang dengan memanfaatkan Program Bantuan ACIAR pada tahun 2008 untuk membangun dan mengembangkan lahan tidur dan kering seluas 34 hektar di Desa Camplong II Kabupaten Kupang yang kini sudah berkembang menjadi 150 ha dikelola oleh 3 poktan di Camplong.


Gubernur NTT Sebut Pertumbuhan Ekonomi NTT Terus Meningkat

Ia menjelaskan bahwa sejak awal dalam proses pembudidayaan lamtoro tarramba, anggota Poktan didampingi langsung oleh peneliti dari BPTP yakni Dr. Yacob yang telah melakukan pendampingan selama 3 tahun.

Pengembangan lamtoro tarramba sangat penting karena akan menjadi Hijauan Makanan Ternak yang berprotein tinggi dan dapat dikembangkan di lahan tidur/di lahan marginal yang kering dimana produksinya cukup untuk memberi makan sapi saat kemarau.

"Pengalaman poktan selama ini, selama menanam "lamtoro tarramba" dengan jarak 2 meter x 1 meter, hijauan daunnya cukup untuk dijadikan pakan 7-8 ekor sapi per hektarnya tanpa HMT lainnya atau minimal 5 ekor sapi minimal pada saat iklim sangat kering" demikian kata Dermi, di Kupang, Kamis (23/3).

Semementara itu, Menurut Ani, pengembangan lamtoro tarramba merupakan sebuah langkah terobosan di saat Hijauan Makanan Ternak (HMT) lain sulit diperoleh.

"Dengan melihat potensi tanaman lamtoro tarramba yang memiliki kandungan protein yang tinggi saat ini, ke depan akan mulai kita kembangkan lebih banyak lagi, keuntungan dari tanaman ini cukup banyak, di mana selain ternak sapi tercukupi HMT nya, para petani juga bisa menjual benihnya. Selain itu, tanaman lamtoro tarramba ini juga membuat penghijauan di lahan sekitar tetap terjaga dan asri, karena jenis lamtoro ini tetap hijau hingga puluhan tahun," kata Ani di Kupang.

Saat melakukan kunjungan kerja ke Propinsi NTT belum lama ini, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman sangat tertarik melihat potensi tanaman lamtoro tarramba ini dan menugaskan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) untuk terus memperbanyak benihnya yang ditujukan mencukupi kebutuhan Hijauan Makanan Ternak (HMT) bagi pengembangan ternak sapi di Provinsi NTT dan NTB. Menteri Pertanian juga memberikan bantuan benih lamtoro tarramba ke Kelompok Tani di Desa Kenebibi, Kabupaten Belu, NTT yang sedang mengembangkan 100 ribu ekor ternak sapi.

Oktober Besok, NTT Siap Ekspor Bawang Merah Organik ke Timor Leste

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan