logo


Mengulik Bisnis Pakan Hewan Rumahan Inovatif

Mahalnya harga petfood impor mendorong munculnya usaha petfood rumahan

3 Desember 2014 10:49 WIB

Pengetahuan mengenai komposisi makanan yang dibuat bisa mengikuti standar NRC (National Research Council). FOTO : ISTIMEWA
Pengetahuan mengenai komposisi makanan yang dibuat bisa mengikuti standar NRC (National Research Council). FOTO : ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Makanan tentu memegang peranan penting dalam pertumbuhan. Tak hanya manusia, hewan pun sangat membutuhkan. Bagi pemilik hewan, kualitas makanan yang diberikan menjadi hal penting untuk diperhatikan demi kesehatan dan perkembangan hewan. Terdapat dua golongan hewan yang paling dekat dengan manusia, yakni hewan ternak dan hewan peliharaan. Penyebutan makanannya juga berbeda, makanan hewan peliharaan disebut petfood, sedangkan untuk hewan ternak disebut feed. Perbedaan antara petfood dengan feed adalah tentang higienitasnya. Pengolahan petfood higienitasnya  lebih tinggi dibandingkan feed.

Mahalnya harga petfood terutama karena kebanyakan produk impor, mendorong munculnya usaha petfood rumahan. Dengan kualitas yang tak beda jauh dengan pabrikan dan lebih inovatif membuat produk petfood rumahan mampu diterima oleh para pecinta hewan peliharaan. Apalagi harga jual yang ditawarkan jauh lebih murah dibanding buatan pabrik. Sebagai contoh, jika selama ini petfood pabrikan ada yang berbentuk cookies sederhana, kini justru hadir petfood rumahan dalam bentuk lain yang lebih menarik, misalnya cake, es krim, cookies dengan bentuk menarik seperti bentuk tulang hingga bentuk boneka dan nugget yang sudah pasti akan disukai hewan kesayangan Anda.

Lain halnya dengan petfood, makanan untuk hewan ternak ruminansia (memamah biak) seperti kambing justru belum ada yang membuat secara pabrikan. Sejauh ini para peternak hanya menggunakan pakan ternak tradisional berupa rumput dan aneka bungkil yang belum mengalami pengolahan lebih lanjut. Walhasil, peternak membutuhkan banyak pakan setiap harinya.


Tips Memilih Hewan Kurban

Menurut Data Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, lahan pertanian di Indonesia berkurang sampai 110 ribu hektar setiap tahun. Kondisi ini menyebabkan ketersediaan pakan ternak tradisional di Indonesia  semakin berkurang. Padahal jumlah populasi kambing atau ternak ruminansia lain di Indonesia setiap tahun selalu meningkat. Apalagi dengan adanya Program Indonesia Mandiri Daging, membuat meningkatnya populasi ternak di Indonesia. Oleh karena itu, pakan ternak inovatif merupakan salah satu alternatif makanan ternak untuk mengantisipasi berkurangnya pakan ternak tradisional.

Tak hanya mengatasi keterbatasan pakan ternak bentuk segar seperti rumput, pakan ternak inovatif ini juga memiliki keunggulan terutama mengurangi polusi udara di lingkungan peternakan. Permasalahan yang timbul ketika di suatu daerah terdapat peternakan kambing, yaitu bau kotoran kambing yang sangat menyengat. Bau kotoran tersebut berasal dari limbah peternakan seperti feces, urin, sisa pakan, serta air dari pembersihan ternak dan kandang. Hal ini disebabkan kambing memakan rumput yang basah. Lain halnya jika kambing tersebut diberi pakan yang  terbuat dari limbah-limbah pertanian yang kering maka kotoran yang dihasilkan kambing juga kering dan tidak berbau. Maka dari itu, keberadaan pakan ternak inovatif dalam bentuk kering seperti sereal sangat menjanjikan dengan kualitas dan manfaat yang lebih baik dari pakan ternak tradisional.

Menurut Nahrowi Ramli, Sekjen Asosiasi Ahli Nutrisi dan Pakan Indonesia, usaha makanan untuk hewan tetap bagus ke depannya terutama petfood (makanan hewan kesayangan). Prospek petfood sangat bagus, karena selama ini produk-produk yang ada masih impor dan buatan pabrik berskala besar. Begitu pula untuk pakan ruminansia seperti kambing seperti dalam bentuk sereal kering yang prospeknya baik karena kebutuhan kambing selalu ada. Bahkan sampai sekarang belum ada yang spesial membuat pakan kambing pabrikan ataupun impor, kebanyakan masih berupa pakan ternak tradisional.

Syarat Pembuatan. Jika ingin membuat petfood, menurut Nahrowi syaratnya minimal kualitasnya harus sama dengan buatan impor. Sedangkan untuk pakan ternak seperti kambing, sebaiknya diproduksi dalam skala besar (jumlah banyak) agar lebih ekonomis, sebab harga produknya cukup rendah. Berbeda sekali dengan petfood yang tetap ekonomis meski dibuat dalam skala kecil rumahan.

Untuk pemain baru tentu harus melakukan uji lab. Namun jika sudah lihai (sudah memiliki pengetahuan cukup soal makanan hewan) tidak perlu melakukan uji lab. Jika untuk diperjualbelikan, tentulah harus uji lab terlebih dulu untuk mendapat sertifikat resmi dari Deptan. Pengetahuan mengenai komposisi makanan yang dibuat bisa mengikuti standar NRC (National Research Council) ditambah dengan modifikasi sesuai bahan pakan yang ada.

Higienitas juga sangat penting terutama pada petfood. Mulai dari cara pembuatan, tempat pembuatan sampai pengemasan harus bersih. Berbeda dengan pakan (feed) yang standar kebersihannya masih di bawah petfood. Karena selama ini orang masih beranggapan makanan kambing adalah berupa pakan, dan makanan hewan peliharaan adalah makanan.

Komposisi. Untuk petfood seperti anjing karena merupakan hewan karnivora, komposisi bahan penyusun petfood yang mengandung sumber protein harus lebih besar dari sumber energi, yakni dengan perbandingan 70:30. Sedangkan pada kambing berlaku sebaliknya. Bahan pakan yang wajib ada untuk kambing sama dengan sapi, seperti sumber energi, protein dan serat. Contohnya bungkil kedelai, onggok, bungkil kelapa sawit, dedak atau polard dan lainnya. Bahan penyusun ini juga bisa digantikan dengan bahan penyusun lain asalkan tetap mengandung sumber energi, protein dan serat. Kadar protein yang ideal untuk kambing hanya berkisar 14-18%.

Pemasaran. Harga petfood tentu jauh lebih mahal daripada pakan ternak. Misalnya harga cookies berkisar Rp 15-30 ribu/100 gr, es krim Rp 25-30 ribu per tabung isi 15 pcs, kue ulang tahun (cake) anjing Rp 200-350 ribu, sedangkan pakan kambing olahan hanya Rp 1500/kg. Kemasan antara petfood dan pakan ternak pun berbeda, untuk petfood bisa dikemas dengan toples, plastik food grade atau kardus cantik, sedangkan pakan ternak cukup menggunakan karung. Dari produsen, biasanya produk dijual melalui suplier di tingkat distributor, agen atau reseller baru ke tangan konsumen. Tetapi bisa juga langsung dari produsen ke konsumen.

Menurut pengamat agribisnis F Rahardi, agar produk makanan hewan itu cepat diterima pasar, selain membawa kualitas yang baik, juga memiliki harga yang lebih murah dari yang lain, produk mudah dijumpai di kios dan rajin berpromosi. Untuk memperkenalkan produk bisa melalui social media atau terjun langsung menawarkan ke kalangan pemilik hewan.

 

Berternak Ayam Kampung Super

Halaman: 
Penulis : Riana