logo


Panggolo: Bendungan Abadi Peninggalan Kolonial

Bendungan Panggolo telah ada sejak zaman kolonial untuk tujuan irigasi, sekarang dikembangkan untuk wisata sungai

21 Maret 2017 11:32 WIB

Bendungan Panggolo sebuah bendungan yang terletak di Desa Bade Kabupaten Boyolali memiliki pemandangan seindah Schaffhausen Rhine Falls.
Bendungan Panggolo sebuah bendungan yang terletak di Desa Bade Kabupaten Boyolali memiliki pemandangan seindah Schaffhausen Rhine Falls. dok. pribadi

Boyolali, JITUNEWS.COM -  Pernah dengar air terjun bernama Schaffhausen Rhine Falls? Air terjun cantik yang terletak di sungai Rhine, Swiss. disebut sebagai air terjun terbesar di Eropa. Air terjun yang diperkirakan berusia 15,000 tahun ini tidak hanya memiliki pemandangan eksotis tapi juga terlihat mirip dengan sebuah bendungan jika dilihat dari jauh. Indonesia khususnya Jawa juga memiliki pemandangan cantik seperti air terjun di Swiss tersebut. Bukan sebuah air terjun, tapi bendungan atau dikenal waduk yang kini menjadi salah satu destinasi wisata favorit para penikmat wisata air.

Bendungan Panggolo sebuah bendungan yang terletak di Desa Bade Kabupaten Boyolali memiliki pemandangan seindah Schaffhausen Rhine Falls. Lokasi bendungan terletak di Desa Bade dan membutuhkan perjalanan sekitar tiga kilometer dari pemukiman warga terdekat menampilkan pemandangan yang begitu menakjubkan. Lokasi jalan yang masih sederhana dengan iringan pemandangan persawahan warga membuat bendungan ini cukup menarik untuk dikunjungi.

Pemandangan yang ditawarkan masih terlihat begitu asri dan alami, kemudian ditambah lagi dengan air sungai yang sejuk dan jernih dan juga arus yang tidak terlalu deras, sehingga sangat menggiurkan untuk melepas penat sejenak di tengah hiruk pikuk rutinitas keseharian.


Tingkatkan Sektor Wisata, Menpar Revisi Setiap Regulasi yang Menghambat

 Subadi, salah satu warga sekitar, mengatakan warga sekitar sering mendatangi lokasi bendungan Panggolo tersebut. Subadi menceritakan bendungan tersebut memiliki luas hingga sepuluh hektar dan mengalir di tiga desa berbeda. Subadi juga menambahkan bendungan tersebut telah di bangun sejak zaman penjajahan Jepang. “Saat ini bendungan Panggolo dijadikan sebagai pengairan warga dan tempat memancing warga sekitar. Bendungan memiliki panjang talud tiga kilometer debit air hingga lima puluh meter per detik,”ucap Subadi.

Subadi mengatakan di sejarah bendungan talud diawali dengan adanya penemuan beberapa goa dan sungai yang diduga telah ada sejak zaman penjajahan sehingga bendungan tersebut di namakan sesuai dengan sunagi yang mengalir, Sungai Panggolo.

Subadi menerangkan di bendungan Panggolo kerap di jadikan tempat memancing warga sekitar, pasalnya terdapat berbagai jenis ikan seperti lele,wader. Seorang warga, menurut dia berhasil menangkap ikan lele jawa seberat sembilan kilogram. Dia juga menyayangkan masih ada warga yang menangkap ikan menggunakan bahan kimia.

Subadi mengatakan pihak pemerintah desa Potronayan telah menganggarkan perbaikan untuk memperindah bendungan Panggolo tersebut. Pada tahun anggaran 2015-2016 dana sebesar hampir dua ratus juta rupiah telah dikucurkan untuk membuat saluran talud dan renovasi agar dapat meingkatkan hasil panen warga. Dia menambahkan pemerintah desa berharap dapat membuat wisata sungai seperti Goa Pindul di Daerah Istimewa Yogyakarta namun rencana tersebut harus berkolaborasi dengan Desa Bade, Gondanglegi dan Banyuurip.

Kemenpar Siapkan Paket Wisata Ala Raja Salman

Halaman: 
Penulis : Ellectrananda Anugerah Ash-shidiqq