logo


Mengembalikan Nama Baik Tan Malaka

Tan Malaka dicap komunis oleh regim Orde Baru. Sedangkan Soekarno memberinya gelar pahlawan. Ia juga bergelar Mualim Hafiz Al-Quran.

19 Maret 2017 05:00 WIB

Tan Malaka
Tan Malaka Ist

Warga setempat yang sudah sepuh menceritakan, kampungnya adalah lokasi persembunyian paling aman saat terjadi agresi Belanda. Disesaki rimbunan pohon hutan di lereng Gunung Wilis, yang juga menjadi lintasan geriliya Jenderal Soedirman. 

Suwaji, Kepala Desa Selopanggung mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk memugar makam Tan Malaka, karena tidak mendapat restu dari atasannya. Bupati Kediri, Haryanti Sutrisno menolak mengakui makam itu sebelum diumumkan uji DNA. Alasannya, penelusuran Harry A Poeze dinilai kurang akurat untuk memastikan makam Tan Malaka. 

Polemik kuburan Tan Malaka akhirnya disudahi oleh rombongan tokoh adat Minang bersama Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ferizal Ridwan yang datang ke Kediri. Mereka menyambangi kediaman pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Abdul Muid, untuk meminta restu dan dukungan agar bisa memindahkan makam tersebut ke kampung halaman. Pondok Pesantren Lirboyo juga dinilai strategis untuk merehabilitasi stigma anti Tuhan alias komunis yang dilekatkan oleh rezim Orde Baru kepada Tan Malaka.  


Animator Asal Indonesia Ini Sukses di Kancah Internasional

”Almarhum adalah penghafal (hafiz, red) Al-Quran di kampung kami yang sangat dihormati,” kata Ferizal. 

Belum terbit sikap Kementerian Sosial terkait makam Tan Malaka, lalu sesepuh adat dan keluarga Tan Malaka di Sumatera memutuskan melanjutkan penjemputan jasad. Tetapi bukan membongkar makam dan mengambil tulang belulang, melainkan menjumput tujuh genggam tanah pekuburan sang Datuk Tan Malaka untuk dibawa ke kampung halaman.

“Itu adalah kompromi kami untuk tetap menjaga hubungan baik dengan masyarakat Selopanggung dan Pemerintah Kediri,” ujar Habib Monti, pegiat Tan Malaka Institute yang menjadi bagian panitia penjemputan jasad Tan Malaka bersama Yayasan Peduli Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (YPP-PDRI). 

Selasa (21/2/ 2017) siang, bertepatan hari kematian Tan Malaka, masyarakat Lima Puluh Kota melakukan penjemputan sang Datuk Tan Malaka di pemakaman umum Desa Selopanggung. 
Prosesi adat ini diikuti hampir seluruh ketua adat, sekaligus penyerahan gelar Datuk Tan Malaka dari almarhum kepada penerusnya Hengki Novaro Arsil sebagai Datuk Tan Malaka VII. Hengki berharap prosesi ini menjadi tonggak diakuinya peran kepahlawanan Tan Malaka oleh pemerintah. Meski fakta sejarah mencatat peran yang teramat besar dari Tan Malaka bagi kemerdekaan Republik Indonesia, namun kisah kepahlawanannya kerap disamarkan dan dijerumuskan oleh regim penguasa terdahulu.

”Kami hanya ingin hak-hak kepahlawanan almarhum diberikan,” ujar Hengki. 

Keluarga Tan Malaka berharap seluruh ajaran Tan Malaka kembali dihidupkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan formal. Kata Hengki, tak ada alasan menuduh Tan Malaka sebagai komunis yang anti Tuhan, karena seluruh kehidupan Tan Malaka sangat Islami. Bahkan sejak kecil dia telah menyandang gelar hafiz Al-Quran, menghafal ayat-ayat suci Al-Quran dengan baik. 

Tak bertepuk sebelah tangan, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri yang juga anggota Komisi VIII DPR Kiai An'im Falahudin Mahrus siap membantu merehabilitasi nama baik Tan Malaka dengan melakukan desakan politik kepada pemerintah. 

”Sudah saatnya nama Tan Malaka diluruskan dengan benar," kata Gus An'im. 

Eko Sulistyo, Sang Juru Taktik Komunikasi Politik Jokowi

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,Yusran Edo Fauzi
 
×
×