logo


Anas Urbaningrum Terseret Kasus e-KTP, Loyalis: Ada Hal yang Janggal

Terkait tuduhan yang menyasar dirinya, Anas pun dengan tegas membantahnya

12 Maret 2017 11:30 WIB

Wakil Ketua Umum Partai Hanura, Gede Pasek Suardika.
Wakil Ketua Umum Partai Hanura, Gede Pasek Suardika. Jitunews/Rezaldy

BALI, JITUNEWS.COM – Kasus korupsi mega proyek KTP elektronik (e-KTP) yang menyeret sejumlah nama tokoh politik di Indonesia mendapat tanggapan dari salah satu loyalis Anas Urbaningrum, Gede Pasek Suardika.

Wakil Ketua Umum Partai Hanura itu melihat adanya kejanggalan dalam dakwaan yang menyebut peran Anas Urbaningrum.

"Ada hal yang janggal, beliau berhenti 2010 bulan Juli sebagai anggota DPR, sementara disitu (dakwaan) sampai 2011-2012 masih rapat di DPR bersama Mustokoweni," kata Pasek, dikutip dari tribunnews, Sabtu (11/3).


Disebut Kecipratan Duit e-KTP, Marzuki Alie Geram!

Lebih jauh, mantan Politisi Demokrat ini meminta PPATK diberi ruang besar untuk mengungkap aliran dana tersebut. Apalagi, kebocoran dari proyek e-KTP mencapai Rp 2,3 triliun.

"Hampir setengah anggaran proyek, ini sejarah pertama kali proyek pemerintah hampir mendekati setengah bocornya," tukas Pasek.

Sebelumnya, nama Anas Urbaningrum disebut dalam pembacaan dakwaan dugaan korupsi e-KTP dengan terdakwa pejabat Kementerian Dalam Negeri, Irman dan Sugiharto, Kamis (9/3) lalu. Duit dari proyek e-KTP disebut mengalir untuk Anas yang salah satunya digunakan untuk membiayai kongres Partai Demokrat di Bandung.

Anas disebut menerima uang sebanyak US$ 500.000 melalui Eva Ompita Soraya. Uang tersebut merupakan kelanjutan pemberian pada April 2010 sebesar US$ 2 juta yang diberikan melalui Fahmi Yandri. Pada bulan Oktober 2010 Anas diberi lagi oleh Andy uang sebanyak US$ 3 juta.

Terkait tuduhan yang menyasar dirinya, Anas pun dengan tegas membantahnya. Anas, yang mendekam di Lapas Sukamiskin lantaran kasus korupsi proyek Hambalang, mencurahkan isi hatinya melalui sebuah surat yang kemudian ditulis ulang oleh admin Twitter pribadinya, @anasurbaningrum.

"Ada teman yang menyampaikan: siap-siap dapat serangan fitnah baru katanya. Terkait dengan kasus e-KTP, katanya nama saya juga tersebut di dalam surat bagian dakwaan. Entah apa persisnya. Katanya disangkutkan dengan aliran dana. Padahal, faktanya, itu tidak ada!," tulis admin Twitter Anas @anasurbaningrum, Kamis (9/3) lalu.

Anas juga menyinggung soal kasus Hambalang yang membuatnya harus mendekam 14 tahun di bui. Dia menyebut sebuah fitnah pada waktunya akan kembali pada pelakunya.

"Dulu, pada apa yang disebut sebagai 'kasus Hambalang', betapa banyak 'orang itu' bikin cerita fiksi yang dikarang-karang. Sudahlah, lebih baik berhenti bikin fitnah-fitnah. Tidak ada gunanya," ujar dia.

"Hukum alam bilang: setiap butir fitnah akan kembali kepada pelakunya. Kapan, itu hanya soal waktu," imbuh Anas.

Di akhir suratnya itu, Anas antas mengajak semua pihak merenung atas amal perbuatan selama di dunia. Dia juga mengutip salah satu ayat Al-Quran.

"Kata Qur'an: 'to save one life is to save all of humanity'. Makna lainnya: 'zalim kepada satu orang sesungguhnya sama dengan zalim kepada seluruh umat manusia'," tulis dia.

"Buah dari benar atau fitnah, adil atau zalim, kelak akan menyertai kita di alam keabadian. Mari kita renungkan," tutup Anas.

Setnov Terseret e-KTP, Politisi Senior Golkar Angkat Bicara

Halaman: 
Penulis : Riana