logo


Raja Salman, 'Berkah Politik' Bagi Ahok-Djarot

Jangan sampai politik yang dilakoni oleh setiap pribadi menyeret agama ke ruang publik dan untuk kepentingan kekuasaan politik.

6 Maret 2017 11:15 WIB

Raja Salman bersalaman dengan Ahok saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma.
Raja Salman bersalaman dengan Ahok saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Kunjungan bersejarah Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud, ke Indonesia tidak hanya membawa dampak positif bagi kerja sama kedua negara, Arab Saudi dan Indonesia, tetapi juga memberikan pesan positif terhadap peningkatan semangat kebhinekaan di Indonesia. Secara tidak langsung, Raja Salman turut menguatkan persatuan dalam keberagaman yang menjadi salah satu identitas bangsa Indonesia.

Jika dikaitkan dengan beberapa situasi yang terjadi belakangan ini, kehadiran Raja Salman tentu cukup relevan. Jika Raja Salman setuju dengan beberapa 'gangguan' yang terjadi di Indonesia selama ini, ia ikut berkomentar dan memberi opininya terhadap situasi itu.

Dalam kasus dugaan penodaan agama, misalnya. Bukan kah kasus itu telah menjadi perbincangan masyarakat dunia? Sebagai pemimpin negara Muslim, Raja Salman bisa saja menyampaikan pandangannya terhadap kasus itu. Mengingat substansi kasus itu berkaitan dengan salah satu ayat Alquran, kitab suci umat Muslim.


Putaran Kedua, Timses Anies-Sandi: Insya Allah Menang!

Tetapi, dalam beberapa pertemuan penting yang diikuti, Raja Salman tidak membuat pernyataan terkait kasus yang telah menyeret Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama itu.

Tidak adanya reaksi khusus Raja Salman terhadap kasus itu tentu akan berpengaruh terhadap konstelasi politik di Pilkada Jakarta. Nihilnya pernyataan khusus terkait kasus itu turut melegitimasi dugaan adanya kesimpangsiuran pemahaman antara kelompok yang berseberangan opini dalam menyikapi inti persoalan penodaan agama selama momentum Pilkada Jakarta.

Lebih jauh lagi, kesediaan, kerelaan serta keterbukaan Raja Salman berdialog dengan pemuka berbagai agama di Indonesia seakan memberi pesan perlunya dialog lintas agama di Indonesia untuk menyikapi persoalan yang menyentuh nadi keagamaan tertentu.

Sayangnya, upaya itu tidak pernah terwujud selama ini. Yang mengemuka hanya lah upaya mengonsolidasikan kekuatan sekelompok orang, namun mengabaikan kelompok lainnya.

Padahal, jika sejak awal para pemuka agama bisa duduk bersama menyelesaikan persoalan itu, tentu rakyat Jakarta tidak akan terus didera isu tak sedap, khususnya isu SARA, selama Pilkada DKI Jakarta.

Berkaca pada situasi Pilkada Jakarta saat ini, kehadiran Raja Salman tentu saja memberi efek tambahan bagi elektabilitas pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat sebagai pasangan yang kerap dijadikan 'target serangan' isu SARA dari kelompok tertentu.

Dalam benak publik, andai saja Raja Salman juga memiliki pandangan yang sama dengan kelompok tertentu yang menolak Ahok, sapaan populer Basuki Tjahaja Purnama, tentu saja dalam kunjungannya ia akan menyambangi dan berdialog dengan kelompok-kelompok yang kerap menyuarakan kepentingan politik atas nama agama tertentu.

Raja Salman justru datang mematahkan itu. Ia tidak hanya menerima kunjungan para pemuka agama Islam, tetapi ia juga menerima kunjungan pemuka-pemuka agama lain. Kepada para tokoh agama itu, Raja Salman juga tidak mengisyaratkan sebuah keinginan yang lebih mengutamakan kepentingan Islam. Ia menyerukan dialog lintas agama.

Kondisi itu turut memperkuat posisi Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta putaran kedua nanti. Sikap Raja Salman yang menerima berbagai kelompok berbagai latar belakang keagamaan serentak mematahkan derasnya arus isu SARA yang akan mengalir ke Pilkada Jakarta putaran kedua.

Padahal, sebelumnya, Rai Rangkuti dari Lingkar Madani mengingatkan bahwa isu agama akan tetap dimainkan di Pilkada Jakarta Putaran Kedua nanti. Menurut Rai, hanya isu itu yang dapat mengganggu tingkat elektabilitas pasangan Ahok-Djarot.

Dengan suntikan positif dari kunjungan Raja Salman ini, pasangan Ahok-Djarot diprediksi akan menguat pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta nanti. Ahok, yang berlatar belakang non-Muslim, tidak lagi dipersoalkan di kancah politik Pilkada karena latar belakangnya itu.

Meskipun demikian, 'berkah politik' dari Raja Salman ini tentu tidak serta merta turut menyetujui Ahok atau pihak tertentu untuk mengobok-obok agama tertentu dalam kampanye politiknya, dengan cara apapun.

Agama harus tetap dijadikan ruang personal yang menjembatani kedekatan pemeluknya dengan Sang Pencipta. Jangan sampai politik yang dilakoni oleh setiap pribadi menyeret agama ke ruang publik dan untuk kepentingan kekuasaan politik.

Pesan itulah yang hendak disampaikan Raja Salman dalam dialognya dengan pemuka agama. Raja Salman menawarkan dialog lintas elemen sebagai jalan jitu pewujudan persatuan yang kokoh dan utuh.

Sikap Demokrat di Pilkada DKI Diputuskan Hari Ini, Kata Roy Suryo Kemungkinan Besar Mereka..

Halaman: 
Penulis : Marselinus Gunas