logo


Dirjen PKH Kementan Resmikan Ranch Sapi Potong di Sumbar

Selain UPT milik Pusat, Ditjen PKH juga mengembangkan UPT Daerah baik Provinsi dan Kabupaten/Kota yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan memicu perkembangan populasi sapi di Indonesia sehingga dapat meningkat terus dari tahun ke tahun.

6 Maret 2017 09:32 WIB

Dirjen PKH Kementan Resmikan Ranch Sapi Potong di Sumbar
Dirjen PKH Kementan Resmikan Ranch Sapi Potong di Sumbar dok. Kementan

PASAMAN BARAT, JITUNEWS.COM - Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan) Drh. I Ketut Diarmita, MP., bersama dengan Gubernur Sumatera Barat resmikan Farm Peternakan (ranch) Sapi Bali yang dibangun terintegrasi dengan UPT Pembibitan Sapi di Air Runding yang menjadi pusat pengelolaan hewan ternak, sehingga Sumatera Barat memiliki dua ranch pembibitan sapi, yakni di Padang Mangatas Kabupaten 50 Kota dan di Air Runding di Pasaman Barat.

Hal tersebut disampaikan Dirjen PKH saat menghadiri acara peresmian Farm Peternakan di Air Runding Kabupaten Pasaman Barat Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Sabtu (4/3) lalu.

Diarmita lantas mengatakan, program pengembangan sapi di Sumatera Barat sudah sangat sejalan dengan pembangunan peternakan nasional sesuai yang tertuang dalam nawacita Presiden Joko Widodo (Jokowi).


Upsus Siwab, Strategi Jitu Kementan Wujudkan Swasembada Daging Sapi

Ia menyampaikan, salah satu kegiatan penting pembangunan peternakan dan kesehatan hewan tahun 2017 adalah Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang berorientasi pada peningkatan populasi untuk mencapai swasembada protein hewani asal ternak.

"Peningkatan populasi ini juga dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan dari impor dan sekaligus mendukung Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia. Untuk menyukseskannya, maka kita perlu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dan peran aktif dari semua pihak, termasuk masyarakat," ungkap Diarmita dalam siaran persnya kepada Jitunews.com, Senin (6/3).

Diarmita menjelaskan, di tengah-tengah keterbatasan anggaran Pemerintah, maka pelaksanaan kegiatan Upsus Siwab dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang lebih banyak melibatkan peran aktif masyarakat.

“Tuntutan atas capaian kinerja program dan kegiatan pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, utamanya produksi daging sapi/kerbau, semakin tinggi. Oleh karena itu, salah satu cara yang ditempuh untuk mempercepat peningkatan populasi sapi dan kerbau di Indonesia yang saat ini sekitar 13,5 juta ekor adalah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya di dalam negeri," kata Diarmita.

Lebih jauh, Diarmita mengatakan, kegiatan Upsus Siwab yang digagas Kementan ini ada di 34 Provinsi di Indonesia. Kata dia, pemerintah sendiri berkomitmen untuk mewujudkan kebuntingan 3 juta ekor sapi pada tahun 2017, sehingga suatu saat nanti Indonesia bisa mengekspor daging ke luar negeri, sebab Indonesia memiliki semua potensi untuk menjadi negara pengekspor daging.

"Untuk itu, Upsus Siwab ini harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Saya berharap semua pihak baik pemerintah pusat, daerah, swasta dan peternak bergerak semua ikut menyukseskannya," imbaunya.

Lebih lanjut disampaikan, khusus untuk Sumatera Barat target jumlah akseptor sebanyak 111.293 ekor dengan jumlah kebuntingan 75.659 ekor dan kelahiran diharapkan dapat menghasilkan tambahan anak sebanyak 61.300 ekor. Sedangkan untuk Kabupaten Pasaman Barat, target akseptor 4.615 ekor dengan jumlah kebuntingan dan kelahiran diharapkan dapat menghasilkan tambahan anak sebanyak 3.091 ekor.

Pembangunan peternakan dan kesehatan hewan merupakan salah satu bidang pertanian yang lebih banyak mengurusi komoditas yang bersifat demand driven, yang berarti komoditas tersebut akan terus dibutuhkan dan diminta oleh masyarakat, seiring dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk meningkatkan populasi ternak sapi potong, Diarmita juga menyampaikan, dilakukan melalui usaha budidaya dan usaha pembibitan. Menurutnya, usaha budidaya selama ini telah dilakukan oleh peternak rakyat yang mencapai 98% (ST2013, BPS) dengan skala kepemilikan 2-4 ekor dan dilakukan secara semi intensif.

"Pola usaha ini tentunya yang perlu ditingkatkan, baik skala usaha maupun dari sisi managemen usaha yang lebih baik agar dapat meningkatkan kesejahteraan peternak" imbuhnya.

"Peran swasta dan masyarakat sangat diharapkan dalam usaha pembibitan, namun kondisinya usaha pembibitan belum diminati oleh para investor mengingat perputaran modal (Return Of Invesment) cukup lama. Untuk itu pemerintah yang mengambil alih untuk melakukan usaha pembibitan," tandas Diarmita.

Diarmita mengatakan, saat ini Ditjen PKH mengelola 10 UPT (Unit Pelaksana Teknis) Perbibitan, yaitu 3 UPT penghasil benih dan 7 UPT penghasil bibit yang hasilnya untuk disebarkan ke peternak dalam rangka meningkatkan kualitas produksi daging sapi potong.

Selain UPT milik Pusat, Ditjen PKH juga mengembangkan UPT Daerah baik Provinsi dan Kabupaten/Kota yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan memicu perkembangan populasi sapi di Indonesia sehingga dapat meningkat terus dari tahun ke tahun.

"Kami sangat mendukung upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemda Sumatera Barat dalam membangun Farm Peternakan sapi ini, terutama untuk meningkatkan populasi sapi potong di Sumatera Barat, sehingga Indonesia tidak tergantung lagi dari negara lain dalam memenuhi kebutuhan daging sapi," ungkap Diarmita.

"Saya berharap pembangunan Farm Peternakan yang ada di Provinsi Sumatera Barat dapat menjadi pilot project bagi provinsi-provinsi lain dalam mengembangkan populasi sapi potong. Dan semoga dengan diresmikannya Farm Peternakan ini dapat meningkatkan populasi sapi yang ada di Sumatera Barat pada khususnya dan Indonesia pada umumnya," pungkas Diarmita.

Kementan Optimis Program UPSUS SIWAB Mampu Tingkatkan Populasi Sapi Lokal

Halaman: 
Penulis : Riana