logo


Pemuda Menjadi Petani? Mengapa Tidak!

Pemuda masa kini memilih pertanian sebagai jalan hidupnya. Salah satunya Ganung Dwi Endarto yang memanfaatkan lahan rumahnya untuk bertani cabai

3 Maret 2017 14:26 WIB

Ganung, petani cabai organik asal Desa Mojo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali
Ganung, petani cabai organik asal Desa Mojo, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali dok.Jitunews/Rofiq Hudawiy

Boyolali, JITUNEWS.COM -  Cabai saat ini menjadi komoditas pertanian unggulan. Bagaimana tidak, saat ini harga cabai masih bertahan di angka ratusan ribu rupiah, tidak jauh dari harga perkilogram daging sapi!.

Pilihan menjadi petani bagi sebagian generasi muda bukanlah pilihan keterpaksaan tetapi, memang melihat, pertanian masih menguntungkan jika dikerjakan dengan baik dan rasional. Sebagian dari itu,  anak muda yang memilih profesi petani sebagai jalan hidup, bukan karena pelarian walaupun banyak yang bukan berasal dari jurusan pertanian.  Tak jarang, petani modern ini menggunakan halaman rumah yang tidak terpakai menjadi “sawah” sebagai tempat untuk memuaskan hasrat mudanya.

Peluang harga cabai yang masih tinggi dan jalan hidup inilah yang dipilih oleh Ganung Dwi Endarto. Sarjana seni dari  Institut Seni Indonesia Jogjakarta ini memutuskan untuk menjadi petani cabai. Ganung panggilan akrabnya, memanfaatkan halaman di belakang rumahnya untuk bertani cabai secara organik.


Harga Cabai Pedas, Ibu-ibu Pilih Mengurangi Membeli Cabai

Ratusan bibit cabainya siap untuk dipetik pada saat panen mendatang. Awalnya dia tidak langsung menjadi petani cabai, dia sudah mencoba berbagai macam tanaman untuk ditanam di belakang rumahnya. Saat ini, dia menanam cabai di halamannya dan lahan tanam untuk cabai organiknya telah mencapai 64 m2.

Ganung mengungkapkan, ilmu mengenai pertanian yang dimilikinya saat ini merupakan buah ketekunannya dalam mempelajari hal baru. “Saya pelajari semua hal mengenai pertanian secara otodidak bukan dari kuliah karena saya sendiri lulusan dari ISI mas,”ujarnya saat di temui Jitunews.com di kediaman sekaligus lahan cabainya (24/02/2017).

Ganung menjelasakan keuntungan dari menanam cabai saat ini sungguh menggiurkan karena harga cabai yang masih bertahan di angka ratusan ribu rupiah. “Harga cabai yang mahal ini memberikan keuntungan yang lumayan, saya prediksi harga ini sampai puasa dan lebaran karena pada saat puasa dan lebaran banyak orang yang membutuhkannya,’’ jelas Ganung.

Ganung menjelaskan dalam satu pohon cabai, dalam sekali panen bisa menghasilkan hingga lima kilogram cabai. Umur tanaman cabai bisa mencapai satu tahun dan bisa di panen berulang kali. “Kalau target saya, jika panen dengan luas tanam segini ( kurang lebih 64m2 –redaksi) bisa mencapai satu kuintal. Keuntungannya tinggal dikalikan saja dengan harga jualnya,” ucap Ganung.

Dia memilih menanam cabai karena selain harganya yang melangit, kebutuhan masyarakat akan cabai masih tinggi. “Di pasar saja, cabai walaupun harganya masih tinggi masih ada warga yang cari,”kata Ganung.

Ganung berharap usaha pertanian organiknya ini mampu menjadi inspirasi anak muda lainnya untuk memilih menjadi petani modern.

Pemerintah Bantah Keluarkan Izin Impor Cabai Segar

Halaman: 
Penulis : Rofiq Hudawiy, Ellectrananda Anugerah Ash-shidiqq