logo


Pemerintah Harus Menindak Tegas Pelaku Impor Cabai Iegal

"Para petani terus berteriak meminta pemerintah untuk bertindak tegas terhadap para pelaku impor ilegal tetapi sampai sekarang impor ilegal makin marak terjadi," ujar Pengamat Pertanian Dani Setiawan.

2 Maret 2017 16:10 WIB

Cabai Merah.
Cabai Merah. Jitunews/Rezaldy

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Pengamat Pertanian Dani Setiawan meminta pemerintah untuk menindak tegas para pelaku impor cabe ilegal. Pasalnya di tengah produksi cabe yang kian menurun akibat cuaca buruk, justru cabe impor ilegal semakin merajalela di pasar.

"Kalau memang benar pelaku impor cabe tersebut adalah ilegal, maka pemerintah harus bertindak tegas. Mereka harus di tangkap," demikian kata Dani Setiawan saat dihubungi Jitunews.com, Kamis(2/3).

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa masuknya pangan impor selalu berbarengan dengan penurunan harga pangan dalam negeri dan membuat para petani menjadi merugi. “impor yang resmi saja selalu membuat harga bergejolak apa lagi kalau impor tersebut tidak resmi, pasti akan berdampak pada harga cabe ke depannya,”demikian katanya.


Peran Pemuda Majukan Pertanian di Indonesia Makin Nyata

Ia juga mengatakan bahwa berkaca dari langkah impor kentang yang beberapa waktu lalu di lakukan oleh pemerintah, memberikan kerugian yang cukup besar bagi para petani. “

"Para petani terus berteriak meminta pemerintah untuk bertindak tegas terhadap para pelaku impor ilegal tetapi sampai sekarang impor ilegal makin marak terjadi," ujarnya.

Menurutnya, yang sangat merasakan dampak dari masuknya bahan pangan ilegal adalah para petani, karena setiap barang pangan impor akan berdampak besar pada harga sehingga hasil panen petani terus anjlok dan merugi.

Seperti diketahui di beberapa pasar tradisional khususnya di Jawa Timur ditemukan maraknya penjualan cabe impor. Pasalnya murahnya harga cabe kering impor Rp65.000 per kg menggiurkan para pembeli, karena harga jual cabe lokal masih berada pada harga yang cukup tinggi Rp 120 ribu per kg.

Periode Maret 2018: Harga Menguat, BK CPO Nol, BK Kakao 5%

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Syukron Fadillah