logo


Upsus Siwab Menjadi Traget Besar Capaian Kementan di Tahun 2017

Ketut Diarmita menegaskan bahwa fokus kegiatan pembangunan Ditjen PKH tahun 2017 adalah Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang berorientasi pada pencapaian swasembada protein hewani.

19 Februari 2017 15:07 WIB

Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita saat menjadi pembicara pada acara Focus Group Disccusion (FGD) \'Dokter Hewan di Zaman Globalisasi\'di Kampus Universitas Udayana Denpasar, Bali, Sabtu (7/1).
Direktur Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian (Kementan), I Ketut Diarmita saat menjadi pembicara pada acara Focus Group Disccusion (FGD) 'Dokter Hewan di Zaman Globalisasi'di Kampus Universitas Udayana Denpasar, Bali, Sabtu (7/1). Humas Ditjen PKH

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Ketut Diarmita menegaskan bahwa fokus kegiatan pembangunan Ditjen PKH tahun 2017 adalah Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang berorientasi pada pencapaian swasembada protein hewani. Kegiatan ini harus disukseskan, dan keberhasilannya sangat dinanti pada tahun 2018.

“Sehingga jangan sampai penyakit hewan menjadi ancaman yang dapat menggagalkan kegiatan yang sudah dicanangkan tersebut” demikian kata Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian (Kementan), Ketut Diarmita, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Minggu(19/2/2017) .

Menurutnya, dengan anggaran pemerintah yang terbatas, kerjasama dengan pemerintah Australia sangat diperlukan, terutama untuk penanganan penyakit hewan. Selain itu, pengembangan iSIKHNAS saat ini juga berfungsi menjadi sistem monitoring dan pelaporan program Upsus Siwab.


I Ketut Diarmita: Tantangan Peternakan, pada Sektor Kelembagaan dan Skala Usaha Peternak

“Data Upsus Siwab diarahkan ke ISIKHNAS, sehingga akan terjadi keterlambatan dalam mengirimkan data karena kapasitas server yang terbatas. Oleh karena itu, kita minta dalam kegiatan AIPEID tahap 2 ini untuk dapat membantu meningkatkan kapasitas server“, demikian kata Ketut.

Perlu diketahui, saat ini Kementerian Pertanian sedang melakukan restrukturisasi perunggasan, terutama untuk unggas lokal di sektor 4 (empat) yang menjadi sumber utama outbreak penyakit Avian Influenza (AI). Ditjen PKH terus berusaha untuk membangun kompartemen-kompartemen AI dari penerapan sistem biosecurity, yang awalnya hanya 49 titik, saat ini sudah berkembang menjadi 68 titik.

“Saya meminta kepada Direktur Keswan untuk mendesign kegiatan ini agar peternak lokal dapat menerapkannya karena kompartemen-kompartemen yang dibangun oleh Indonesia ini dapat diakui oleh negara lain, sehingga dengan terbentuknya kompartemen-kompartemen, maka Indonesia dapat ekspor kembali,” ungkap Ketut.

Lebih lanjut Ketut menekankan Indonesia sedang mengupayakan agar dapat kembali ekspor ke Jepang, Timor Leste dan PNG. Hal ini tentunya diharapkan dapat menyusul keberhasilan Indonesia, dimana sejak tahun 2015 telah mengekspor telur ayam tetas (Hatching Eggs) ke Myanmar.

“Kita harapkan Pemerintah Australia dapat menjadi Partner yang baik untuk mewujudkan Indonesia menjadi Lumbung pangan Dunia” tukasnya.

Pertanian dan Perikanan Kunci Kesejahteraan Rakyat NTT

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Marselinus Gunas