logo


Harga Gabah Kering Panen di Jateng dan Jatim Terus Anjlok dibawah HPP

Turunnya harga GKP yang jatu di bawah HPP tersebut dikarenakan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada saat ini sedang memasuki musim panen raya.

10 Februari 2017 16:59 WIB

Petani mengayak gabah hasil panen.
Petani mengayak gabah hasil panen. Jitunews/Latiko Aldila Dirga

SRAGEN, JITUNEWS.COM - Hingga saat ini harga jual gabah kering panen (GKP) di Jawa Tengah dan Jawa Timur terus anjlok di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Dalam sepekan terakhir, harga GKP berkisar di angka Rp 3.200 sampai Rp 3.600 per kilogram. Bahkan, di beberapa tempat ada yang sampai di bawah Rp 2.600 per kg.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Eka Rini mengatakan, bahwa harga GKP di Sragen jatuh di bawah HPP Rp 3.700 per kg GKP. Harga rata-rata GKP di tingkat petani sampai dengan saat ini saat ini Rp 3.400 per kg.

“Harga terus mengalami fluktuasi di daerah Sragen sebelah selatan berkisar Rp 3.400 sampai dengan Rp 3.600 per kilogram dan di beberapa tempat lainnya Rp3.700," demikian kata Eka Rini, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Jitunews.com, Jumat(10/2).

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Margo Mulyo Blimbing, Sragen, Citro mengatakan, harga GKP varietas Ciherang pada saat ini anjlok sampai Rp 3.200 per kg. Adapun untuk varietas mentik, harga GKP masih bertahan di angka Rp 3.800 sampai Rp 4.000 per kg.

Menurut Citro, turunnya harga GKP yang jatu di bawah HPP tersebut dikarenakan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada saat ini sedang memasuki musim panen raya. "Tapi, seharusnya di saat gabah banyak begini, harganya tetap sesuai HPP. Jangan diturunkan," ujarnya.

Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, petani juga mengeluhkan rendahnya harga gabah. Harga jual gabah tersebut tidak sebanding dengan produktivitas petani yang terus mengalami peningkatan.

Mugianto (39 tahun), salah seorang petani di Desa Penawangan, Kecamatan Penawangan, Grobogan menyatakan, tahun lalu dia sempat merasakan hasil penjualan GKKP mencapai Rp 4.000 per kg. Harapannya, pada panen raya, dia pun bisa menjual gabah dengan harga yang sama.

Dia mengaku, dengan harga jual gabah hasil panen sebesar itu, petani tidak memperoleh untung. Alasannya, harga jual gabah tidak sebanding dengan biaya produksi yang telah dikeluarkannya. Mugianto merinci, untuk biaya produksi per petak sawah yang digarapnya mencapai Rp 1,3 juta, meliputi ongkos tanam, pembelian benih, dan pemupukan. Kedua petak sawah tersebut hanya mampu menghasilkan 1 hingga 1,2 ton gabah.

"Nah, kalau harga jual gabah hanya Rp 3.000, saya cuma dapat Rp 3,2 juta. Bagi kami ini rugi, ongkos untuk tenaga panen belum masuk dalam komponen produksi,” tukasnya.

Kementan Apresiasi Peningkatan Produksi Sektor Pertanian Aceh

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Marselinus Gunas