logo


Indonesia Bangun Jaringan Gas Senilai US$ 80 Milyar

Pertamina membutuhkan dana US$80 M untuk membangun jaringan gas di Indonesia

7 Februari 2017 17:19 WIB

Petugas memeriksa pipa gas di Onshore Receiving Facilities (ORF) milik PT Pertamina Gas di Porong, Sidoarjo, Jawa TImur, Jumat (26/2).
Petugas memeriksa pipa gas di Onshore Receiving Facilities (ORF) milik PT Pertamina Gas di Porong, Sidoarjo, Jawa TImur, Jumat (26/2). Antara

JAKARTA, JITUNEWS.COM -  Direktur Utama Pertamina, Yenni Andayani mengatakan bahwa Indonesia memerlukan investasi US$ 70-80 miliar hingga tahun 2030 untuk pembangunan infrastruktur gas secara menyeluruh untuk mencukupi kebutuhan energi domestik yang terus tumbuh sekitar 4-5% per tahun.

Dia menjelaskan meningkatnya kebutuhan energi domestik ini disebabkan oleh pertumbuhan populasi kelas menengah dan meningkatnya gross domestic product (GDP). Angka pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan konsumsi energi secara global.

"Proyek-proyek tersebut menjadikan permintaan gas meningkat dan tantangan selanjutnya adalah upaya yang harus dilakukan untuk memenuhi permintaan tersebut dari hulu ke hilir. Indonesia memerlukan investasi baru untuk mengeksplorasi dan mengembangkan sumber-sumber gas baru serta membangun infrastruktur gas yang akan mengirimkannya ke konsumen akhir," kata Yenni dalam pembukaan International Indonesia Gas Conference & Exhibition 2017, Selasa (7/2/2017).


Jangan Lupakan, Ini Prestasi Dirut Wanita Pertama Pertamina!

Peran gas alam untuk ekonomi Indonesia ke depan akan cukup menonjol yang utamanya dipicu oleh pertumbuhan permintaan gas dari pembangkit listrik PT PLN (Persero) untuk kapasitas total sekitar 14.000 MW yang merupakan bagian program 35.000 MW dan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) pada empat kilang dan dua New Grass Root Refinery (NGRR) milik Pertamina. Selain itu, pertumbuhan juga akan didukung oleh penambahan kapasitas pabrik pupuk dan sektor transportasi.

"Investasi infrastruktur gas merupakan investasi jangka panjang untuk 30-an tahun dan untuk menjadi tujuan investasi, Indonesia berkompetisi dengan negara lain. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang baik di seluruh stakeholder, insentif, harga yang kompetitif, dan memastikan iklim investasi dalam negeri yang baik," terangnya.

Begini Tanggapan Luhut Soal Pergantian Dirut Pertamina

Halaman: 
Penulis : Ellectrananda Anugerah Ash-shidiqq