logo


Google kecam Kebijakan Trump

Kebijakan imigrasi yang bersifat diskriminatif dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kecaman. Sejumlah perusahaan multinasional mulai berani mengkritik langkah Trump mengatur pendatang khususnya dari negara Islam termasuk karyawan perusahaan

30 Januari 2017 14:57 WIB

Ilustrasi, google.
Ilustrasi, google. Reuters

JAKARTA, JITUNEWS.COM -  Kebijakan imigrasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang bersifat diskriminatif menuai kecaman. Sejumlah perusahaan multinasional mulai berani mengkritik langkah Trump mengatur pendatang khususnya dari negara-negara Islam termasuk karyawan perusahaan Google Inc.

Google memanggil pulang seluruh stafnya yang berada di luar negeri. "Kami mencemaskan dampak aturan imigrasi yang baru. Sebab, aturan tersebut akan langsung memengaruhi staf asing Google dan keluarga mereka,” ujar Chief Executive Google Sundar Pichai kepada Wall Street Journal.

Dia menyatakan, seperti dilansir bbc, pengetatan aturan imigrasi terhadap para pendatang dari tujuh negara Islam itu berdampak langsung kepada 187 staf Google. Dia langsung menginstruksikan seluruh staf asing yang berada di luar AS untuk segera pulang.


Sebut Dirinya Nasionalis Sejati, Ternyata Jas Donald Trump Bikinan Indonesia Lho!

 Jika para staf tersebut sedang berdinas, Pichai memerintahkan mereka langsung mengakhiri tugas dan pulang ke AS. Sementara itu, mereka yang sedang berlibur diimbau segera mengakhiri liburannya. Dia berharap seluruh staf asing Google masih sempat pulang.

”Aturan ini adalah halangan besar bagi AS untuk memperoleh talenta-talenta terbaik dari seluruh penjuru dunia,” kata Pichai. Dia mengaku sedih karena sebagian staf Google akan terimbas kebijakan Trump tersebut. Pria yang berasal dari India tersebut menyesalkan dekrit kontroversial tentang imigrasi.

Pemerintah Iran bereaksi dengan mengeluarkan kebijakan menghentikan pemberian visa kunjungan kepada penduduk Amerika Serikat setelah menjadi salah satu sasaran kebijakan imigrasi yang diteken Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Negeri yang baru saja terlepas dari sanksi ekonomi tersebut menyetop visa kunjungan bagi penduduk AS.  "Tidak seperti AS, kebijakan kami tidak berlaku surut," ujar Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, Minggu (29/1).

 

Peringatan Keras Investor China kepada Donald Trump

Halaman: 
Penulis : Ellectrananda Anugerah Ash-shidiqq