logo


Investasi Bodong Masih Marak

Setiap bulan ada penambahan satu investasi bodong

25 Januari 2017 16:11 WIB

Ilustrasi.
Ilustrasi. cnbc.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM -  Otoritas Jasa Keuangan melalui Financial Customer Care (FCC OJK) telah menerima aduan 484 perusahaan investasi yang diduga ilegal sepanjang 2013-2016 lalu.

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Kusumaningtuti S. Soetiono mengatakan, jumlah aduan tersebut yang ditindaklanjuti dengan monitoring dan pengamatan lapangan terkait 217 entitas sedangkan sisanya tidak dapat dilakukan monitoring.”Sebanyak 267 entitas tidak dapat ditindaklanjuti karena keterbatasan informasi seperti tidak adanya kantor dan sebagainya,” terangnya.

Berdasar penelusuran OJK, di antara 217 entitas, sebanyak 80 perusahaan dipastikan perusahaan investasi yang tidak berizin alias bodong. Perusahaan-perusahaan tersebut lantas dicantumkan dalam portal waspada investasi sikapiuangmu.ojk.go.id.


Serius Berinvestasi, Taiwan Bidik Sektor Listrik dan Gula RI

OJK berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap praktik investasi bodong melalui 48 kegiatan edukasi di 26 kota yang rawan investasi bodong.  ”Agustus tahun lalu baru 42 perusahaan, sekarang sudah 80. Jadi, setidaknya setiap bulan bertambah satu (perusahaan investasi bodong),” katanya.

Secara keseluruhan, indeks literasi keuangan Indonesia pada tahun 2016 mencapai 29,66 persen, meningkat dibandingkan 21,84 persen pada 2013. Sementara itu, indeks inklusi keuangan Indonesia pada tahun 2016 mencapai 67,82 persen, naik dibandingkan 59,74 persen pada 2013.

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Kusumaningtuti S Soetiono menjelaskan, indeks literasi keuangan tertinggi masih didominasi provinsi-provinsi di kawasan Jawa dan Bali.  “Dalam literasi keuangan, DKI Jakarta paling tinggi, diikuti oleh Jawa Barat,” ujar Kusumaningtuti di Jakarta, Selasa (24/1/2017).

Dalam survey mengenai literasi keuangan yang dilakukan OJK, Indeks literasi keuangan tertinggi terjadi di DKI Jakarta mencapai 40 persen, diikuti oleh Jawa Barat 38,70 persen, Daerah Istimewa Yogyakarta 38,55 persen, Banten 38,18 persen, dan Bali 37,45 persen.

Sedangkan indeks literasi keuangan terendah terjadi di Papua Barat yang mencapai 19,27 persen, Nusa Tenggara Barat (NTB) 21,45 persen, Papua 22,18 persen, Sulawesi Tengah 22,55 persen, serta Kalimantan Selatan dan Gorontalo mencapai 23,27 persen.

Kadin Dorong Taiwan Investasi di Indonesia

Halaman: 
Penulis : Ellectrananda Anugerah Ash-shidiqq