logo


Cara Mudah Memilih Daging Sapi Asli dan Segar

Penipuan yang paling sering dilakukan oleh pedagang daging sapi yang tidak bertanggung jawab adalah dengan cara mencampur daging sapi asli dengan daging celeng atau daging gelonggong.

24 Januari 2017 12:45 WIB

Pedagang daging sapi.
Pedagang daging sapi. dok. Jitunews

JITUNEWS.COM - Penipuan yang paling sering dilakukan oleh pedagang daging sapi yang tidak bertanggung jawab adalah dengan cara mencampur daging sapi asli dengan daging celeng atau daging gelonggong. Oleh sebab itu, konsumen daging sapi harus waspada dan mengenali ciri fisik masing-masing jenis daging sebagai berikut :

Ciri Daging sapi yang asli dan segar
1. Dagingnya berwarna merah terang dan lemaknya berwarna kekuningan.
2. Tekstur dagingnya kenyal.
3. Daging dipasarkan dengan cara digantung.

Ciri-ciri daging sapi gelonggong
1. Dagingnya berwarna pucat.
2. Teksturnya lembek dan tidak tahan lama (mudah busuk)
3. Kadar airnya sangat banyak (Jika dagingnya ditekan akan mengeluarkan air).
4. Pedagang tidak berani menggantung daging gelonggong, karena daging akan meneteskan air..
5. Jika direbus, daging sapi gelonggong akan menyusut lebih banyak daripada daging sapi asli.


Selain Hemat Listrik, Tidur dalam Gelap Ternyata Juga Bagus buat Kesehatan lho

Ciri-ciri daging celeng
1. Dagingnya berwarna lebih pucat.
2. Tekstur seratnya lebih halus.
3. Dagingnya lebih banyak mengandung air daripada daging sapi.
4. Aroma daging celeng lebih amis daripada aroma daging sapi.

Dengan berbagai macam ciri daging yang telah disebutkan diatas, di harapkan para pembeli lebih teliti lagi dalam membeli daging sapi dan segera hindari pendagang daging yang :
• Menjual daging sapi dengan harga yang jauh dibawah harga pasar yang berlaku.
• Mendadak menjual daging dan bukan di lokasi yang seharusnya.
• Tidak berani menggantung daging sapi jualannya.
• Menjual daging yang berwarna kehitaman, agak berbau, licin ketika dipegang, dan urat-uratnya mengembang. (berbagai sumber)

Awas! Banyak Minum Air Putih Berbahaya bagi Tubuh

Halaman: 
Penulis : Satria Budi