logo


Anda Memperingati Haul Habib Ali, Sudah tahu Sejarahnya Habib belum?

Sejarah Habib di mulai dari garis keturunan Fatimah RA

20 Januari 2017 09:48 WIB

Jamaah dari berbagai wilayah memadati sepanjang Jalan Kapten Mulyadi Surakarta untuk mengikuti acara Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsy ke-105, Kamis (19/01).
Jamaah dari berbagai wilayah memadati sepanjang Jalan Kapten Mulyadi Surakarta untuk mengikuti acara Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsy ke-105, Kamis (19/01). Jitunews/Rofiq Hudawiy

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Setelah kasus penodaan agama yang dilakukan oleh Gubernur non aktif Basuki Tjahaja Purnama, Anda yang sedang mencari ketenangan batin pasti sedang berada di kota Solo untuk memperingati haul atau kelahiran Habib Ali. Habib Ali yang meninggal tahun 1953 tersebut banyak menunjukkan kiprah positif di Indonesia.

Habib di Indonesia identik dengan ustadz keturunan Arab dengan stereotip berjanggut tebal dan bersorban. Masyarakat hanya mengetahui bahwa Habib adalah pendakwah yang harus dihormati.

Jika ditelisik dalam perspektif antropologis, munculnya Habib merupakan fenomena ‘penghormatan’ terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW. Sebutan Habib itu secara khusus ditujukan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Fatimah az-Zahra yang memiliki dua putera yakni Hasan dan Husein melalui pernikahan dengan Ali bin Abi Thalib.


Habib Rizieq Sebut Sukmawati Lakukan Kriminalisasi Tesis Ilmiah

Dari keturunan tersebut itulah muncul gelar khusus, yaitu Habib yang memiliki arti Yang Tercinta, Sayid berarti Tuan, Syarif artinya yang mulia, dan sebagainya. Gelar Habib terutama ditujukan kepada mereka yang memiliki pengetahuan agama Islam yang mumpuni dari golongan keluarga tersebut. Gelar Habib juga berarti panggilan kesayangan dari cucu kepada kakeknya dari golongan keluarga tersebut.

Saat ini lembaga pencatat nasab Habib secara resmi di lakukan oleh Rabithah Alawiyah yang berkedudukan di Jakarta. Berdasarkan catatan Ar-Rabithah, organisasi yang melakukan pencatatan silsilah para habib, ada sekitar 20 juta orang di seluruh dunia yang menyandang gelar ini. Mereka yang juga disebut muhibbin itu terdiri dari 114 marga. Menurut Ar-Rabithah, hanya keturunan laki-laki saja yang berhak menyandang gelar Habib.

Bukan dari Arab tetapi Yaman

Di kalangan Arab-Indonesia, menurut catatan Ar-Rabithah, ada sekitar 1,2 juta orang yang ‘berhak’ menyandang sebutan Habib. Mereka memiliki moyang yang berasal dari Yaman, khususnya Hadramaut.

Dari merekalah tersusun silsilah yang menjuntai hingga belasan abad, dari Hadramaut di Yaman hingga ke Tanah Abang,Jakarta. Dalam perkembangannya, khususnya di kalangan masyarakat muslim Indonesia, gelar ini tidak hanya disandang oleh para da’i dari Yaman saja. Orang-orang Arab Hadramaut mulai datang secara massal ke Nusantara pada tahun-tahun terakhir abad 18, sedangkan kedatangan mereka di pantai Malabar jauh lebih awal.

Dampak Kaum Penjajah

Perhentian mereka yang pertama adalah Aceh. Dari sana mereka lebih memilih pergi ke Palembang dan Pontianak. Orang Arab mulai banyak menetap di Jawa setelah tahun 1820, dan koloni-koloni mereka baru tiba di bagian Timur Nusantara pada tahun 1870.

Pendudukan Singapura oleh Inggris pada tahun 1819 dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai perhentian pertama dan titik pusat imigrasi bangsa Arab. Sejak pembangunan pelayaran dengan kapal uap di antara Singapura dan Arab, Aceh bahkan menjadi tidak penting sama sekali.

Di pulau Jawa terdapat enam koloni besar Arab, yaitu Batavia, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang dan Surabaya. Di Madura hanya ada satu yaitu di Sumenep. Koloni Arab di Surabaya dianggap sebagai pusat koloni di pulau Jawa bagian Timur. Koloni Arab lain yang cukup besar berada di Pasuruan, Bangil, Probolinggo, Lumajang, Besuki dan Banyuwangi. Koloni Arab di Besuki mencakup pula orang Arab yang menetap di kota Panarukan dan Bondowoso.

Koloni-koloni Arab Hadramaut khususnya Alawiyin yang berada lokasi pesisir tetap menggunakan nama-nama famili mereka, sedangkan Alawiyin yang tidak dapat pindah ke pesisir karena berbagai sebab kemudian berganti nama dengan nama Jawa, mereka itu banyak yang berasal dari keluarga Bayaiban, Ba’bud, Bin Yahya dan lainnya.

Masyarakat Indonesia telah memuliakan para pendakwah sebagai pemimpin tanpa melihat asal-usul keturunan, dengan alasan seorang menjadi alim tidak diakibatkan oleh asal keturunannya.

Polisi akan Periksa Habib Rizieq Soal 'Palu Arit'

Halaman: 
Penulis : Ellectrananda Anugerah Ash-shidiqq