logo


Beromzet Puluhan Juta, Ini Rahasia Sukses Misir Jalankan Usaha Budidaya Ikan Hias

Persentase pemasukan dari ikan hias jenis Discus paling besar, yakni sekitar 60%

16 Januari 2017 14:18 WIB

Pedagang melayani pembeli ikan hias di salah satu pusat penjualan ikan, Jakarta.
Pedagang melayani pembeli ikan hias di salah satu pusat penjualan ikan, Jakarta. ANTARA FOTO

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Salah satu pembudidaya ikan hias yang mampu mempertahankan usahanya hingga kini menginjak tahun ke-12 adalah Misir, pemilik Mischosella Fish. Tepat pertengahan tahun 2005, Misir merintis usaha budidaya ikan hias dengan modal sekitar Rp 5 juta, namun kini omzet yang diraup tiap bulannya bisa mencapai puluhan juta. Apa kunci suksesnya?

"Budidaya ikan hias sangat mudah dilakukan dan tidak memerlukan perhatian khusus. Kuncinya lakukan dengan hati dan rasa senang,” terang Misir di bilangan Bambu Apus, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. 

Bapak dua anak ini membudidayakan beberapa jenis ikan hias yang populer di masyarakat. Seperti Guppy, Cupang, Koi, Manfish, Koki, Black Ghost, Discus dan sebagainya. Dari semua itu yang paling banyak diminati dan ia fokuskan, adalah ikan Discus. 


Penjual Ikan Komet: Bisnis Budidaya Ikan Hias Ini Tidak Ada Ruginya!

Ikan Discus merupakan ikan berbentuk seperti disk dan mampu menjaga kebersihan akuarium, serta berdaya jual tinggi sehingga sangat menguntungkan. Selain cantik dan indah dipandang, Discus memiliki beberapa strain/jenis berdasarkan corak, warna dan keturunan. Sekarang Misir sudah mampu memperbanyak beberapa jenis/warna ikan Discus seperti Red Royal, Blue Snake, Skin Snake, Skin King Cobra, Blue Diamond, Red Melon, San Merah dll.

Dikatakan Misir, tiap bulannya, dari 1 jenis ikan indukan bisa digunakan untuk memproduksi 200-250 benih/anakan dengan teknik pemijahan dimana perbandingan jantan dan betina 1:2. Dalam sebulan, Misir mengaku kerap membuat stok masing-masing benih/jenis ikan sebanyak 500-1.000 benih.

Dan tiap bulannya juga, Misir mengaku mampu menjual sekitar 3.000-5.000 benih/anakan ikan hias, sehingga omzet yang diperoleh sekitar Rp 56 juta dengan keuntungan sekitar 40-50%. 

"Persentase pemasukan dari ikan hias jenis Discus paling besar, yakni sekitar 60%," ungkap Misir. 

Strategi yang dilakukan Misir agar usahanya bisa tetap survive dalam waktu lama, antara lain adalah berupaya membuat tren baru dari jenis ikan yang banyak diminati masyarakat, baik dari segi warna dan corak yang berbeda, serta terus berkesinambungan (artinya dari jenis ikan yang sama diproduksi corak yang berbeda, misalnya albino, blue, merah dan lainnya yang tersedia secara kontinyu). 

"Untuk dapat menyediakan ikan dengan beragam corak dan warna yang berbeda, saya melakukan proses kawin silang indukan yang berbeda corak dan unggul," tutur Misir.

Misir juga berusaha menjaga kepercayaan konsumen dengan cara misalnya menyediakan pesanan benih ikan berkualitas sesuai permintaan. Apabila benih/anakan cepat mati minimal satu minggu tanpa kesalahan perawatan, maka bisa diganti. 

Tak hanya itu, Misir juga mengaku dirinya selalu menjaga komunikasi dengan peternak ikan hias, supplier dan pembeli, serta memberikan konsultasi gratis masalah budidaya, pemijahan dan lain-lain. Dengan cara demikian, diakui Misir dirinya selalu kebanjiran permintaan dari kalangan penghobi ikan hias, penjual ikan hias dan pelanggan dari proyek-proyek instansi, sekolah, dan lain-lain.

‘Komandan KKP’ Dorong Kemandirian Pembudidaya Ikan di Bumi Kartini Jepara

Halaman: 
Penulis : Riana