logo


Yamma Carlos Digojlok di Camp Militer Sebelum Syuting Film TNI

Aktor atletis berpostur 180 cm ini sejak kecil terobsesi ingin jadi TNI. Itu yang membuat ia antusias mengikuti latihan di camp militer

12 Januari 2017 10:11 WIB

Yama Carlos.
Yama Carlos. Instagram @yamacarlos7

Jitunews ; Porsi ambil makanannya apakah bebas ?

Yamma Carlos ; Makan harus banyak. Kalau ambil sedikit wah pasti ditambahin lagi sama mentornya. Pokoknya makan harus banyak dan harus habis. Enggak boleh ada sisa satu butir nasi pun. Sambal pun harus habis.

Begitu ada perintah berhenti makan, maka instruktur memeriksa satu per satu piring, kalau ada yang tersisa ya kena hukuman. Termasuk para aktor juga kena disiplin sama.


Pelaku Penembakan Berpangkat Serda, Bagaimana Posisinya di TNI?

Jitunews ; Berapa waktu yang diberikan untuk makan ?

Yamma Carlos ; Makan pun ada aturannya, enggak boleh lama, hanya lima menit. Bayangin nasi dan lauk segunung-gunung, porsi besar harus habis dalam lima menit. Caranya menyuap minum, menyuap minum, begitu aja biar tepat waktu lima menit habis satu piring porsi besar.
Kalau kehidupan tentara di camp itu logika yang normal dibalik, yang didoktrin adalah logika militer. Makan semestinya kan banyak mengunyah, tapi ini malah makan bukan untuk dinikmati, yang penting makan porsi besar harus cepat habis. Setelah itu disuruh lari, he he he….

Jitunews ; Latihan militer lainnya ?

Yamma Carlos ; Latihan menembak dengan senapan dan pistol yang menjadi senjata organik TNI. Kemudian latihan baris-berbaris untuk pembentukkan sikap dasar disiplin tertib militer dan nasionalisme. Kemudian latihan yang susah harus diulang-ulang adalah latihan ”hormat senjata” (medal parade). Saya berperan sebagai Letnan Satu, berarti perwira yang harus kompak memegang pedang memimpin ritual hormat senjata dengan pasukan di belakangnya -- sebagai sebuah ritual militer penyambutan pasukan yang pulang bertugas dari medan konflik.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Komandan Batalyon Para Raider 328, karena bisa mengenyam pengalaman dilatih dengan tingkat kedisiplinan sangat tinggi, seperti prajurit TNI yang siap diterjunkan sebagai kontingan Garuda penjaga perdamaian di negara yang berkonflik.

Saya juga pernah mengikuti latihan camp militer selama 10 hari seperti ini untuk film ”Badai di Ujung Negeri.”

Di film Garuda 23 atau judul internasionalnya ”I Leave My Heart in Lebanon yang sedang tayang di bioskop-bioskop Tanah Air – merupakan film ketiga bergenre militer yang dibintangi Yamma Carlos bersama Rio Dewanto dan Boris Bokir menjadi TNI yang ditugaskan ke Lebanon, Timur Tengah.

Film yang disutradarai Benny Setiawan dan Letjen (Purn) TNI TB.Silalahi sebagai produser eksekutif -- merupakan film kolosal yang terisnpirasi penugasan prajurit TNI dalam Kontingan Garuda yang ke-23. Setiap kali bertugas dalam misi PBB di negara berkonflik -- prajurit TNI selalu menunjukkan bukti ketangguhan yang menempati ranking ke-10 dalam kontribusi pengiriman pasukan di antara 124 negara dalam misi perdamaian PBB.

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, sampai hadir menyaksikan syuting perdana film ini di Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Ketika film ini pertama tayang di bioskop, para petinggi Angkatan Darat termasuk Panglima TNI Gatot Nurmantyo dan KASAD Jenderal Mulyono ikut menonton film yang dibintangi Rio Dewanto, Yamma Carlos, Boris Bokir dan Revalina S.Temat. Bertepatan hari ulang tahun Angkatan Darat ke-71 pada 15 Desember 2016 bersamaan diputar film Garuda 23 atau I Leave My Heart In Lebanon.

Film ini dibungkus romantisme polemik kehidupan pribadi yang dihadapi prajurit saat harus menjalani tugas ke luar negeri menjaga perdamaian di Lebanon. Kapten Satria (Rio Dewanto) seorang perwira muda terpilih bersama prajurit terbaik Lettu Arga (Yamma Carlos), Serka Gulamo (Boris Bokir) menjadi anggota Kontingen Garuda di Lebanon, untuk mengamankan terjadinya konflik dua negara yang sedang berselisih, Lebanon dengan Israel.

Lettu Arga harus mengalahkan perasaan galaunya meninggalkan istri yang sedang hamil tua. Begitu di Lebanon, Lettu Arga di tengah tugas siaganya menjaga keamanan di daerah konflik -- mendadak hanyut dalam haru tak bisa berada di sisi istrinya yang sedang dalam proses persalinan. Sedangkan Kapten Satria menjalin hubungan akrab dengan Rania (Jowy Qhoury), seorang guru sekolah dasar di Lebanon. Sementara kekasih Satria di tanah air, Diah (Revalina S. Temat) gamang, karena muncul Andri (Baim Wong) yang masih sepupu, sarjana lulusan Inggris yang sukses di bisnis properti. Andri menaruh hati kepada Diah yang didukung ibunya Diah (Tri Yudiman) yang mempengaruhi Diah agar menerima cinta Andri. Ayah Diah (Dedy Mizwar) justru sebaliknya meminta Diah setia menunggu Satria selesai tugas.

Di akhir cerita, Kapten Satria sebagai prajurit tetap menjaga kehormatan TNI dengan tak mungkin menikahi Rania, gadis Lebanon untuk menetap di sana, kecuali keluar sebagai prajurit TNI.

Namun film ini sempat diterpa badai media sosial -- yang menganggap ide ceritanya menjiplak sebuah drama serial Korea (K-Drama) yang berjudul Descendants of The Sun (DoTS) yang booming pada awal 2016 lalu. Banyak orang tergila-gila dengan drama yang dimainkan Song Joong-Ki dan Song Hye-Kyo -- di mana mengawinkan tema pasukan perdamaian dunia dengan romantisme asmara.

Terkuak! Ryamizard Ryacudu dan Pak Harto Masuk Dalam Daftar KSAD yang...

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,Yusran Edo Fauzi