logo


Yamma Carlos Digojlok di Camp Militer Sebelum Syuting Film TNI

Aktor atletis berpostur 180 cm ini sejak kecil terobsesi ingin jadi TNI. Itu yang membuat ia antusias mengikuti latihan di camp militer

12 Januari 2017 10:11 WIB

Yama Carlos.
Yama Carlos. Instagram @yamacarlos7

Jitunews ; Tapi apa sempat terbesit tetap ingin masuk TNI ?

Yamma Carlos ; Ijazah terakhir saya SMA. Kalau saja saya sarjana dan umur masih 28 tahun ya masih bisa ikut jenjang ”Perwira Karier” untuk masuk TNI. Tapi 28 Desember 2016 usia saya genap 36 tahun.
Obsesi jadi TNI tetap ada. Tapi harapan itu jika saya punya anak laki-laki. Kebetulan istri lagi mengandung. Kalau Tuhan mengizinkan saya diberi keturunan anak laki-laki semoga bisa jadi perwira TNI.

Jitunews ; Terus, apa rasanya kasampaian jadi tentara walau hanya di film ?


Pelaku Penembakan Berpangkat Serda, Bagaimana Posisinya di TNI?

Yamma Carlos ; Rasanya berbeda setiap kali dipercaya main film militer. Obsesi ingin jadi tentara akhirnya ploong rasanya seperti diterima jadi tentara benaran. Saat syuting juga bersama tentara benaran. Disiplin dan tata-tertibnya juga mengikuti aturan tentara. Tidak ada perlakuan istimewa buat saya, Rio Dewanto dan Boris Bokir sebagai aktor.

Ini bukan sekadar akting jadi tentara. Saya juga harus menjalani proses militansi masuk camp militer, digojlok bersama tentara sungguhan yang dipersiapkan untuk suatu misi militer -- seakan mau dikirim ke medan perang atau medan konflik. Di camp militer, saya bersama para tentara dikondisikan menjalani latihan siaga masuk medan perang.

Untuk film Garuda 23, kami dilatih selama empat hari di camp militer di Batalyon Para Raider 328, di Cilodong, Bogor, Jawa Barat. Meski empat hari, tingkat stressing-nya tinggi. Meski dibentuk secara instan, tapi terasa menjadi karakter pasukan tempur. Bayangin aja dalam sehari, saya cuma tidur enggak lebih dari tiga jam. Untuk standar kesehatan kan waktu tidur sehari delapan jam. Tapi jadi tentara kan logika manusia normal bisa dibalik.

Waktu tidur kami mulai pukul 10 malam. Tapi itu enggak tidur pulas. Benar-benar enggak ada pulasnya. Itu tidur siaga namanya -- setiap saat ada alarm panggilan dan bunyi senapan sebagai perintah setiap prajurit harus segera berada pada titik-titik posisi yang sudah ditentukan dalam keadaan tiarap -- yang diumpamakan musuh itu datang. Kami harus lari dari barak, semua atribut seragam harus lengkap mengenakan baju, celana, sepatu, kaus dalam, tas, helm dan senjata.
Selama masuk camp militer, sudah didoktrin bahwa sekitar kami berada adalah daerah musuh. Jadi apa pun kondisinya harus siaga berhadapan dengan musuh. Setiap malam kami juga kebagian giliran piket jaga satu jam.

Bahkan lagi makan pun bisa ada bunyi alarm, tinggalkan makanan langsung siaga tiarap di posisi masing-masing. Makanya semua kegiatan dikondisikan harus siaga berhadapan dengan musuh. Bunyi alarm enggak hanya tengah malam saja.

Para mentor sering memperingatkan walau pun sedang tidur tetap awas pada barang-barang perlengkapan terutama ”istri atau pacar pertamamu yaitu senjata.” Namanya kecapean ya tidur pulas kan, meletakkan senjata pada rak tempatnya, tapi ada mentor yang sengaja memindahkan senjata, sedangkan kami tidak terjaga, kena deh hukuman ala militer di antaranya push-up 30 sampai 50 kali atau disuruh lari, ya tergantung kesalahannya. Setiap hari pasti berapakali kena hukuman. Ada aja yang salah.

Cuma anehnya kami enggak sakit. Walau kurang tidur, ditekan secara fisik, tapi para mentor melakukan penggemblengan secara terukur. Jadi enggak sembarangan. Kalori yang keluar seimbang dengan makanan yang dikasih gizinya sangat baik.

Terkuak! Ryamizard Ryacudu dan Pak Harto Masuk Dalam Daftar KSAD yang...

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,Yusran Edo Fauzi