logo


Kominfo Serius Usut Tuntas Media Online Penyebar Hoax

Hanya sekitar 0.05% media online yang resmi terdaftar dan memiliki kredibilitas

30 Desember 2016 09:55 WIB

Ilustrasi Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).
Ilustrasi Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Terkait maraknya berita hoax dari media online, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) sudah lakukan komunikasi dengan dewan pers untuk menindaklanjuti hal tersebut.

Jubir Kemenkominfo Noor Iza pada Kamis (29/12/2016) malam mengatakan, "Kominfo sudah melakukan komunikasi dengan dewan pers terkait dengan adanya berita hoax dari media online. Bagaimana cara menindaklanjutinya, bagaimana kerja sama bisa dilakukan."

Iza mengatakan bahwa menurut dewan pers, situs online resmi yang kredibel jumlahnya tidak sampai 1%. Dia mengimbau kepada media online untuk mengikuti ketentuan yang diberikan dewan pers.


Banyak Media Online yang Berkonten Fitnah, Presiden: Harus Dievaluasi

"Karena menurut dewan pers, situs-situs online resmi hanya sekitar 0,05 persen. Bagaimana dengan lainnya? sisanya tidak kredibel dan melanggar peraturan," ucap Iza

Iza melanjutkan, "Sebagian media online ada aturannya kalau dia sebagai media harus mengikuti ketentuan oleh dewan pers. Makanya dalam hal ini Kominfo akan menggandeng dewan pers."

Sementara itu Kominfo telah memblokir sebanyak lebih dari 750 ribu situs. Dari jumlah tersebut, di antaranya situs situs penyebar berita hoax dan bernada provokasi.

"Kalau situs yang sudah diblokir oleh Kominfo sudah 767 ribu, ini semua jenis situs. Untuk berita hoax kan masih waktu itu belum begitu ketara, akhir-akhir ini semakin banyak. Situs-situs tadi sebagian yang mengandung radikal, SARA, provokasi, berita bohong," jelas Iza.

Sepanjang tahun 2016, dikatakan Iza bahwa Kominfo mengambil sikap tegas terhadap situs yang mengandung unsur radikalisme dan hoax.

Kominfo telah memblokir situs tersebut sebagai langkah nyata untuk menyaring media online yang berpotensi memicu konflik.

Media Online Kerap Sebar Fitnah, Pemerintah: Kita Segera Bereskan

Halaman: 
Penulis : Sukma Fadhil Pratama