logo


Fenomena 'Klitih' di Yogyakarta Jadi Pemicu Meningkatnya Tawuran

Telah tercatat sebanyak 43 kasus tawuran pelajar atau klitih di DIY selama tahun 2016

29 Desember 2016 16:27 WIB

Warga yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Pendidikan (MPP) melakukan aksi damai di Titik 0 Kilometer, DI Yogyakarta, Sabtu (17/12).
Warga yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Pendidikan (MPP) melakukan aksi damai di Titik 0 Kilometer, DI Yogyakarta, Sabtu (17/12). Antara

YOGYAKARTA, JITUNEWS.COM - Peningkatan aksi kekerasan di kalangan pelajar seperti tawuran di Yogyakarta menjadi catatan kepolisian di akhir tahun 2016.

Tawuran pelajar serta kekerasan yang dikenal di Yogya dengan istilah klitih, dikatakan Kapolda DIY Brigjen Pol Ahmad Dofiri bahwa fenomena tersebut menjadi perhatian serius. Hal ini mengingat Yogyakarta akan terkena negatif yang notabene dikenal sebagai kota pelajar dan kota destinasi wisata.

"Yogya ini kota pelajar, kota wisata, kalau ada tawuran (atau) klitih itu sangat mengganggu citra Yogya. Sehingga ini jadi konsen untuk menangani kasus-kasus tersebut. Memang kasus ini meningkat," ucap Kapolda DIY pada jumpa pers akhir tahun di Mapolda DIY, Kamis (29/12/2016).


Pelajar Purwakarta Saling Balas Aksi Toleransi Agama

Penyelesaian kasus tawuran tersebut untuk tahun 2016 menggunakan diversi sebanyak 7 kasus. Hal ini dilakukan sebab pelaku masih usia dibawah umur.

Sementara yang maju ke pengadilan sebanyak 7 kasus dan yang lain dalam proses penyelidikan. Telah tercatat sebanyak 43 kasus tawuran pelajar atau klitih di DIY selama tahun 2016 ini.

Sebagaimana diketahui, kasus kekerasan pelajar di Yogyakarta di akhir tahun 2016 menyebabkan seorang pelajar tewas dikeroyok. Para pelaku juga masih kategori anak-anak memiliki rentang usia antara 14-18 tahun. 

'Petasan Dilarang Pada Malam Tahun Baru di DKI Jakarta'

Halaman: 
Penulis : Sukma Fadhil Pratama