logo


Tangkal Cabai Berbahaya, Kementan Ketatkan Pengawasan

"Kita tidak ingin kecolongan lagi, makanya kita lakukan pengetatan dalam pengawasan"

13 Desember 2016 14:59 WIB

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Antarjo Dikin
Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Antarjo Dikin karantina.pertanian.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Pasca penemuan benih cabai ilegal asal Tiongkok yang sangat membahayakan produksi nasional, pemerintah khususnya Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan sejumlah langkah strategis.

Upaya itu di antaranya langkah pengetatan di setiap pintu masuk, serta mengupayakan pengawasan dan kontrol terhadap penyebaran benih pengganggu tersebut.

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Antarjo Dikin, mengatakan bahwa upaya pengetatan dan pengawasan itu dilakukan agar tidak ada benih serupa yang kemudian menyebar ke masyarakat.


Gudang Penyimpanan Cabai demi Jaga Pasokan

"Kita tidak ingin kecolongan lagi, makanya kita lakukan pengetatan dalam pengawasan," Antarjo Dikin, kepada Jitunews.com, Selasa (12/12), di Jakarta.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Badan Karantina Pertanian kembali memusnahkan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) yang berupa benih cabai ilegal.

Dari hasil temuan balai karantina, benih cabai ilegal asal Tiongkok itu positif mengandung Bakteri Erwinia Chrysanthemi. Bakteri ini merupakan OPTK Golongan A1 Golongan 1 (belum ada di Indonesia) dan tidak dapat diberikan perlakuan apapun selain Eradikasi/pemusnahan.

Bakteri Erwinia Chrysanthemi dapat menimbulkan kerusakan atau kegagalan produksi hingga mencapai 70 persen. Menurut data BPS, produksi cabai nasional tahun 2014 sebesar 1,075 juta ton dan estimasi harga cabai hari ini Rp 60.000, maka potensi kerugian ekonomi produksi cabai dapat mencapai Rp 45,1 triliun. Selain itu, bakteri ini juga dapat menyerang dan menular pada tanaman-tanaman lain yang ada di Indonesia termasuk bawang.

Pemusnahan 2 kg benih cabai, 5.000 batang tanaman cabai, dan 1 kg benih bawang daun dan sawi hjau dilakukan dengan cara dibakar dengan incinerator di Instalasi Karantina Hewan, Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta.

Tim P2 (Pengawasan dan penindakan) Badan Karantina Pertanian menemukan benih ilegal ini atas kerja sama Kantor Imigrasi Kelas I Bogor yang menangkap empat Warga Negara Asing (WNA) asal Tiongkok pada Tanggal 8 November 2016.

WNA asal Tiongkok tengah melakukan aktivitas bercocok tanam cabai. Aktivitas itu melanggar Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, di antaranya terkait penyalahgunaan izin tinggal.

Harga Cabai Kian 'Pedas', KPPU: Cabai Terkendala di Rantai Distribusi

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Christophorus Aji Saputro