logo


Pelaku Penghadangan Kampanye Cawagub Djarot Sampaikan Penyesalan

Pelaku sehari-hari berprofesi sebagai penjual bubur

13 Desember 2016 13:22 WIB

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta petahana, Djarot Saiful Hidayat saat menghadiri deklarasi relawan Dulure Djarot di Jakarta, Rabu (5/10).
Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta petahana, Djarot Saiful Hidayat saat menghadiri deklarasi relawan Dulure Djarot di Jakarta, Rabu (5/10). Jitunews/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Pelaku penghadangan kampanye Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, Naman Sanip (52), menyampaikan penyesalannya. Hal itu disampaikan Naman usai menjalani persidangan di Pengadilan Jakarta Barat, Selasa, 13 Desember 2016.

Pihak Kepolisian Mengapresiasi Demonstrasi Saat Sidang Ahok yang Berjalan Tertib

Kejadian penghadangan kampanye pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu terjadi di daerah Kembangan Utara, Jakarta Barat, pada 9 November 2016. Diakui Naman, saat itu ia sebenarnya tidak berniat menghadang kampanye Djarot. Sebab ia mengira yang datang adalah Ahok.


Pelaku Panghadangan Kampanye Cawagub Djarot Sehari-hari Jualan Bubur

Menurut Naman, ia dan sejumlah warga di sekitar tempat tinggalnya ingin menyampaikan unjuk rasa kepada Ahok yang mereka anggap telah melakukan penodaan agama.

Garuda Indonesia Resmi Layani Penerbangan Jakarta-Mumbai

"Tujuan saya bukan ke Pak Djarot, tapi ke Pak Ahok. Saya mau minta maaf sama Pak Djarot karena Pak Djarot sebenarnya enggak bersalah," kata Naman.

"Hati nurani saya tergerak, terpanggil karena ada penistaan agama. Ada info yang mau datang Ahok," imbuh Naman.

Telkom Dengarkan Masukan Pelanggan

Pria yang berprofesi sebagai penjual bubu ini juga mengaku, apa yang dilakukannya merupakan aksi spontan.

Buni Yani Lelah Dianggap Provokator

Naman awalnya akan didakwa melanggar Pasal 187 Ayat 4 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada. Dalam Pasal 187 Ayat 4 disebutkan, tiap orang yang menghalangi jalannya kampanye dipidana dengan pidana penjara paling singkat satu bulan atau paling lama enam bulan atau denda paling sedikit Rp 600.000 atau paling banyak Rp 6 juta.

 

Terjadi Keributan Pada Blusukan Ahok di Pulomas Siang Ini

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro