logo


Dasar Hukum Penangkapan Hatta Taliwang Dipertanyakan

"Apa urgensinya penangkapan itu, padahal belum ada surat panggilan"

9 Desember 2016 07:30 WIB

Hatta Taliwang
Hatta Taliwang Ist

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Dasar hukum penangkapan Hatta Taliwang oleh pihak kepolisian dipertanyakan. Pasalnya, menurut kuasa hukum Hatta, Muhammad Syukur Mandar, polisi belum memberikan surat pemanggilan.

"Kami mempertanyakan dasar penangkapan dan apa urgensinya penangkapan itu, padahal belum ada surat panggilan," kata Syukur, saat dihubungi wartawan, Kamis (8/12).

Tak hanya itu, Syukur juga mempertanyakan kasus kejatahan yang dituduhkan kepada kliennya. "Apakah kasus ini kategori cyber crime atau kejahatan luar biasa," ucap Syukur.


Revisi UU ITE Ancam Kebebasan Ekspresi di Indonesia

Syukur menilai, sikap polisi melakukan penangkapan dan penetapan tersangka M. Hatta merupakan langkah yang tergesa-gesa. Sebab, hal tersebut belum bisa dibuktikan secara nyata dalam suatu perbuatan mengancam negara. Meski demikian, Syukur tetap menghargai upaya hukum yang telah dilakukan aparat kepolisian itu.

"Mari kita menghargai hukum. Kami juga menghargai polisi dalam mengambilkan. Tetapi, sepatutnya asas praduga dikedepankan. Perlakuan yang sama di muka hukum," tegas Syukur.

Aktivis Hatta Taliwang diciduk Ditreskrimsus Polda Metro Jaya di kediamannya, Kamis dini hari, 8 Desember 2016. Aktivis yang juga mantan anggota DPR itu ditangkap lantaran postingannya di media sosial.

Pihak kepolisian melalui Kabid Humas Polda Metro Jaya, Raden Prabowo Argo Yuwono memastikan, penangkapan mantan politisi PAN itu bukan terkait makar.

"Yang bersangkutan kami persangkakan Pasal 28 ayat 2 jo 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik)," ujar Argo di Mapolda Metro Jaya, Kamis (8/12/).

Yang dipaparkan Hatta melalui media sosial miliknya, terang Argo, dapat berpotensi menimbulkan permusuhan. Mengingat yang dituliskan Hatta bernuansa kebencian yang menyinggung Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan.

"Dia menyampaikan bahwa orang Cina hobi berternak penguasa, ada di tulisannya, dan sebagainya. Makanya kita tangkap," ungkap Argo.

Rp 300 Juta untuk Makar, Rachma: Cuma Cukup untuk Beli Bakso

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro