logo


"Pembubaran Ibadah Perayaan Natal Oleh Pembela Ahlus Sunnah Adalah Tragedi Intoleransi"

Masinton berharap negara harus benar-banar hadir memberikan rasa aman dan nyaman kepada setiap warga negara dalam melaksanakan ritual ibadah sesuai agama dan keyakinannya.

7 Desember 2016 09:55 WIB

Demo pembubaran paksa kegiatan ibadah perayaan Natal di gedung Sabuga ITB, Bandung, Selasa (6/12).
Demo pembubaran paksa kegiatan ibadah perayaan Natal di gedung Sabuga ITB, Bandung, Selasa (6/12). Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anggota Komisi III DPR RI, Masinton Pasaribu, menilai, pembubaran paksa kegiatan ibadah perayaan Natal di gedung Sabuga ITB, Bandung, yang dilakukan oleh sekelompok massa dengan mengatasnamakan diri Pembela Ahlus Sunnah (PAS) pada Selasa siang (6/12) kemarin adalah tragedi intoleransi. 

Kelanjutan Rencana Revisi UU Ormas

"Ini adalah tragedi intoleransi. Dimana nilai-nilai sakral kegiatan peribadatan hari besar keagamaan tidak lagi dihargai dan dihormati," ujar Masinton di Jakarta, Rabu (7/12).


Rayakan Natal di Kupang, Thomas Lembong Sumbang Pesantren

Oleh karena itu, Politisi PDIP ini berharap, negara harus benar-banar hadir memberikan rasa aman dan nyaman kepada setiap warga negara dalam melaksanakan ritual ibadah sesuai agama dan keyakinannya. 

Apalagi, kata Masinton, terkhusus dalam perayaan hari-besar keagamaan yang disakralkan setiap tahunnya. Seperti Ibadah Natal, Idul Fitri dan Idul Adha, Idul Adha, Maulid Nabi Muhammad, Isra Mi’raj, Waisak, Galungan, Imlek dan lain-lain.

"Aparatur negara tidak boleh kalah dan tunduk pada tekanan sekelompok massa dengan cara semena-mena menghentikan prosesi ibadah keagamaan," tegas Masinton.

Ia pun meminta aparat agar menindak tegas pelaku pembubaran ibadah tersebut dan tidak tunduk pada tekanan kelompok massa tertentu.

Masinton menjelaskan, dalam Pasal 175 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah dijelaskan bahwa "Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan merintangi pertemuan keagamaan yang bersifat umum dan diizinkan atau upacara keagamaan yang diizinkan, atau upacara penguburan jenazah, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan."

Masinton menambahkan, sepanjang pergaulannya bersama umat muslim yang ia hayati dan pendomani, dalam konsep Tasamuh, Islam memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk menjalankan apa yang ia yakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa ada tekanan. Tasamuh adalah keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apapun agamanya, kebangsaannya dan kerukunannya.

Lebih jauh Masinton menegaskan, dalih pelanggaran UU Penataan Ruang dan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Mendagri yang dituduhkan pihak PAS yang menolak sangat tidak berdasar. Karena penggunaan ruangan gedung Sabuga ITB dalam perayaan Tahunan seperti Perayaan Natal yang diselenggarakan Panitia KKR sifatnya hanya saat hari itu saja.

KPPU Pastikan Kebijakan Baru Pemerintah Adil Bagi Semua Pihak

"Bukan permanen atau setiap saat. Sama halnya dengan seluruh umat beragama di Indonesia yang melaksanakan prosesi ibadah diluar tempat ibadah pada saat perayaan Tahunan Keagamaan. Dengan saling menghormati dan menghargai," pungkas Masinton.

Jokowi: Merayakan Natal Berarti Menjalankan Revolusi Karakter

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Riana