logo


Suharno Prawiro: Pasca 212, Masyarakat Harus Benah Diri untuk Pemilu 2019

Pemilu 2019 memang masih jauh. Tetapi aksi bela Islam hingga jilid III menjadi bahan evaluasi buat masyarakat -- agar pada Pemilu 2019 memilih parpol dan caleg yang mampu menyuarakan aspirasi rakyat.

2 Desember 2016 20:04 WIB

Ketua Umum Partai Republik, Mayjen TNI (Purn) DR. Ir. Suharno Prawiro.
Ketua Umum Partai Republik, Mayjen TNI (Purn) DR. Ir. Suharno Prawiro. Jitunews/Latiko A.D

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Ketua Umum Partai Republik, Mayjen TNI (Purn) DR.Ir. Suharno Prawiro, MM menyatakan, rasa syukurnya pada kuasa Illahi, bahwa aksi bela Islam jilid III yang diberi nama ”Aksi Super Damai” atau ”Doa Bersama” pada Jumat (2/11) di Monas – Bundaran HI dan juga di beberapa daerah akhirnya berlangsung tertib dan damai, bersih tanpa aksi anarkis.

”Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah ya aksi 212 bisa berakhir tanpa kerusuhan. Aksi unjuk rasa ini terjaga iman Islamnya dengan menggelar sajadah shalat Jumat, berzikir, berdoa. Tokoh-tokoh juga berorasi tanpa kalimat-kalimat yang provokatif,” papar Suharno Prawiro kepada Jitunews di Kantor DPP Partai Republik, Pemuda 289, Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur.

Tadi siang, Presiden Jokowi seusai shalat Jumat, naik panggung memberikan rasa terima kasih kepada peserta demo dan juga imbauan sepulang acara 212.


Usai Aksi Damai, 2 Stasiun Kereta Deket Monas Penuh Sesak

”Yang saya hormati, yang saya muliakan, para ulama, para kiai, para habaib, para ustadz, hadirin hadirat, yang pada siang hari ini hadir. Pertama-tama, terima kasih atas doa dan zikir yang telah dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara kita. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar... Yang kedua, saya ingin memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya karena seluruh jemaah yang hadir tertib dalam ketertiban sehingga acaranya semuanya bisa berjalan dengan baik. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar… Sekali lagi terima kasih dan selamat kembali ke tempat asal masing-masing, ke tempat tinggal masing-masing, terima kasih,” itulah kutipan dari yang inti disampaikan Presiden Jokowi di hadapan lebih dari satu juta peserta aksi demo super damai.”

Namun begitu, dalam hemat Suharno Prawiro, sebaiknya selepas acara 212, masyarakat berbenah diri dengan mengkaji ulang ; apakah hak politiknya dengan memberikan suara kepada parpol dan calon legislatif akhirnya sudah benar-benar terwakilkan oleh anggota parlemen ?

”Selanjutnya masyarakat harus mengkaji lagi strategi yang lebih baik dalam menggunakan hak politiknya. Agar pada Pemilu 2019 kekuatan energi masyarakat lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan, yaitu dengan memilih partai politik dan anggota legislatif yang komitmen pada janji untuk menampung dan memperjuangkan aspirasi rakyat dari daerah pilihannya (Dapil, red),” jelas Suharno.

Maksud Suharno jelas, tidak perlu lagi unjuk rasa sampai berduyun-duyung manusia turun ke jalan mengorbankan ketertiban umum.

Lanjut Suharno, aksi unjuk rasa sebagai bagian dari proses demokrasi cukup diwakilkan dalam kelompok kecil saja, dan cukup menyampaikan aspirasinya ke DPR. Bila cara ini dilakukan, tidak akan menyedot banyak energi dan uang masyarakat termasuk dana keamanan negara.

”Berbagai elemen masyarakat akhirnya juga bisa mendukung dan mengawal Presiden Joko Widodo dan program nawacita-nya. Kemudian proses hukum kasus penistaan Al Quran oleh terduga Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga tetap bisa dikawal oleh utusan masyarakat dalam jumlah sedikit saja. Lalu ingatkan kepada DPR RI untuk lebih memperjuangkan aspirasi rakyat. Sehingga rakyat tidak perlu berduyun-duyun melakukan aksi-aksi,” jelas Suharno, seraya mengingatkan masyarakat agar jangan hilang kepercayaan kepada Pemilu 2019. Jangan Golput. Yakinlah bila masyarakat berbenah diri untuk Pemilu 2019, maka akan memilih parpol dan caleg yang komitmen memperjuangkan aspirasi rakyat.

Operasi Semut Jadi Identitas Mencolok Aksi Bela Islam

Halaman: 
Penulis : Vicky Anggriawan,Yusran Edo Fauzi