logo


Budidaya Sengon Memuliakan Alam dan Sejahterakan Masyarakat

Jika budidaya sengon ini disambut baik oleh masyarakat, maka dapat mengembalikan kejayaan Indonesia yang pernah menjadi eksporti nomor satu di sektor pengolahan kayu.

23 November 2016 13:00 WIB

Buruh bekerja mengolah kayu sengon di PT Nagabhuana Aneka Piranti, Wonogiri, Jawa Tengah, Senin (22/11).
Buruh bekerja mengolah kayu sengon di PT Nagabhuana Aneka Piranti, Wonogiri, Jawa Tengah, Senin (22/11). Jitunews/Miftahul Abrori

WONOGIRI, JITUNEWS.COM – Presiden Direktur PT Nagabhuana Aneka Piranti, Gunawan Wijaya, mengatakan, budidaya tanaman sengon (albasia) merupakan bisnis mulia karena memiliki potensi ekonomi yang tinggi dan memuliakan alam.

Hal itu disampaikan Gunawan dalam sambutannya pada acara kunjungan kerja Komandan Korem (Danrem) 074/Warastratama, Kolonel Inf Maruli Simanjuntak, ke pabrik olahan kayu sengon, PT Nagabhuana Aneka Piranti, Wonogiri, Jawa Tengah, Senin (22/11).

Dalam kesempatan tersebut, Danrem menyosialisasikan ke Dandim dan Danramil se-Solo Raya, serta perangkat desa setempat terkait potensi budidaya sengon dan pengolahannya. Korem 074 juga menyediakan dua juta bibit sengon ke petani.


Teknis Jitu Budidaya Daun Suji, Gampang Lho!

“Tanaman albasia tumbuhnya cepat dan dapat menyuburkan tanah, karena zat nitrogen yang membuat tanah di sekitarnya lebih subur. Nilai ekonominya juga luar biasa. Masyarakat yang menanam sengon di pekarangan 10 pohon saja, salam lima tahun bisa menghasilkan Rp 5 juta,” kata Gunawan.

Satu benih sengon, tambah Gunawan, harganya Rp 1.000 ditambah biaya perawatan selama  4 sampai 5 tahun kira-kira membutuhkan biaya Rp 10 ribu. Setelah berusia 5 tahun, tinggi sengon mencapai 15 hingga 20 meter dengan diameter 25 hingga 30 cm, dan harganya satu pohon mencapai Rp 500 ribu.

Jika budidaya sengon ini disambut baik oleh masyarakat, maka dapat mengembalikan kejayaan Indonesia yang pernah menjadi eksporti nomor satu di sektor pengolahan kayu.

“Indonesia pernah jadi eksportir olahan kayu terbesar, tetapi hari ini kayu hutan habis. Sekarang masyarakat mulai paham, tidak lagi memproduksi kayu yang merusak hutan dan lingkungan. Produk kayu sengon dulu tidak dilirik pasar. Sekarang sudah mendunia,” kata dia.

Gunawan menyebutkan, di Solo Raya sendiri terdapat beberapa pabrik pengolahan kayu sengon, sehingga masyarakat tidak perlu ragu untuk menjual hasil budidayanya. Salah satunya PT Nagabhuana Aneka Piranti yang mempunyai empat pabrik. 

Ia menjelaskan, khusus pabriknya di Wonogiri memperkerjakan 2.500 karyawan, dan dalam sehari membutuhkan 1.500 pohon.

“Kami siap membeli kayu sengon dengan harga pasar. Kayu sengon diolah menjadi barecore, plywood dan blockboard. Kami sudah bisa mengekspornya ke China, Taiwan, Jepang dan Timur Tengah,” pungkas Gunawan.

Teknis Jitu Budidaya Bayam Rambat, Mudah Lho!

Halaman: 
Penulis : Miftahul Abrori, Riana