logo


Abu Bakar Alhabsy Tanyakan Efektivitas Kinerja BNPT

"Saya tidak paham apa motivasinya, bisa jadi ini sebagai bagian dari provokasi dan framming terhadap Islam," jelas Abu Bakar Al Habsy.

14 November 2016 16:54 WIB

Abu Bakar Alhabsyi.
Abu Bakar Alhabsyi. voa-Islam.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anggota Komisi III DPR RI, Abu Bakar Alhabsy, mengatakan, pelaku pengeboman di Gereja Oikumere, Samarinda bernama Johanda alias Jo Bin Muhammad Aceng Kurnia.

"Pelaku pernah menjadi narapidana teror bom Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Tangerang pada tahun 2011 yang lalu. Kita serahkan saja pengungkapan kasus ini kepada pihak Kepolisian. Saya tidak ingin banyak berspekulasi," ujarnya di Jakarta, Senin (14/11).

Menanggapi hal tersebut, Politisi PKS ini mengaku mempunyai tiga catatan terhadap kasus pengeboman ini. Pertama adalah program deradikalisasi yang dijalankan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu dievaluasi. Pasalnya, pelaku adalah residivis yang pernah dibina selama tiga tahun enam bulan di BNPT. Kabarnya, selama proses tersebut BNPT telah melakukan berbagai penanganan deradikalisasi.


Perkembangan Kasus Sandiaga Uno di Kepolisian Mandek, Pelapor: Kenapa tidak pernah terdengar

"Yang kemudian menjadi pertanyaan, kenapa yang bersangkutan masih mengulangi perbuatannya. Tentu akhirnya kita mempertanyakan efektivitas pola deradikalisasi yang selama ini dijalankan. Barangkali perlu dilakukan evaluasi terhadap program BNPT," tuturnya.

Kemudian, catatan yang kedua adalah pakaian kaos yang digunakan oleh pelaku pengeboman menggunakan kaos yang sangat mencolok bertuliskan Jihad Way of Life, sepertinya kurang masuk akal. Pasalnya pelaku teror pada umumnya tidak menggunakan atribut yang mencolok agar tidak dicurigai dan tidak mudah diidentifikasi.

"Saya tidak paham apa motivasinya, bisa jadi ini sebagai bagian dari provokasi dan framing terhadap Islam," jelasnya.

Dan catatan yang terakhir adalah adanya informasi yang menyebutkan bahwa detonator bom yang digunakan pelaku identik dengan milik PT Adaro yang hilang beberapa waktu yang lalu di Tabalong, Kalimantan Selatan.

"Tentunya hal ini harus diantisipasi dengan baik, karena jumlah detonator yang hilang adalah 183 buah. Jangan sampai detonator itu dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan teror," tutupnya.

Soal Pasal Penghinaan Presiden, Pengamat: Sebaiknya Dihentikan Sekarang

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Syukron Fadillah