logo


Meski Kerap Ditumpas, Sel-sel Teroris di Dalam Negeri Masih Aktif

Serangan dengan target acak di daerah-daerah juga menjadi petunjuk bahwa ruang gerak teroris di perkotaan semakin sempit.

13 November 2016 21:36 WIB

Calon tunggal Kapolri Komjen Pol Tito Karnavian berjabat tangan dengan Ketua Komisi III Bambang Soesatyo saat menerima kunjungan kerja para anggota Komisi III DPR di Kompleks Polri, Jakarta Selatan, Rabu (22/6/2016).
Calon tunggal Kapolri Komjen Pol Tito Karnavian berjabat tangan dengan Ketua Komisi III Bambang Soesatyo saat menerima kunjungan kerja para anggota Komisi III DPR di Kompleks Polri, Jakarta Selatan, Rabu (22/6/2016). JITUNEWS/Johdan A.A.P

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Peristiwa pelemparan bom molotov di depan Gereja Oikumene di Samarinda, Minggu (13/11), menjadi bukti bahwa terorisme adalah ancaman nyata. Kendati terus diburu dan disergap oleh Detasemen 88 Anti-teror Mabes Polri, sel-sel teroris di dalam negeri masih aktif.

"Pelemparan bom molotof di halaman gereja di Samarinda juga menjadi petunjuk tentang kecenderungan baru pelaku teror dalam melancarkan serangannya. Mereka tidak lagi melakukan serangan pada obyek-obyek vital di kota-kota besar seperti Jakarta," demikian hal yang disampaikan Ketua Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo melalui rilis media, Minggu (13/11).

"Mereka melakukan serangan di daerah-daerah dengan target acak sekadar untuk membuktikan eksistensi mereka. Seperti diketahui, sebelum serangan pada sebuah gereja di Samarinda tadi pagi, bulan Agustus lalu, teroris juga melakukan serangan bom pada sebuah gereja kecil di Medan," ucap politisi Golkar itu menambahkan.

Serangan dengan target acak di daerah-daerah juga menjadi petunjuk bahwa ruang gerak teroris di perkotaan semakin sempit. Mereka coba melampiaskan kemarahan mereka di daeah-daerah. Karena itu, aparat keamanan di semua daerah harus waspada. Pola serangan seperti di Samarinda dan Medan bisa saja dilakukan di daerah lain.

Bukti bahwa sel-sel teroris masih aktif bisa dilihat pada latar belakang pelaku pelemparan bom di Samarinda. Pelakunya adalah mantan napi yang terkait jaringan bom buku di Jakarta tahun 2011 dan kasus teror bom Puspitek di Serpong. Sang pelaku tercatat sebagai anggota kelompok JAT, dan berasal dari Bogor.

Komisi III DPR Kritik Permenkumham Tentang Larangan Sementara WNA Masuk Indonesia

Halaman: 
Penulis : Syukron Fadillah