logo


Ide Gila! Ini Teknik Penanganan Jenazah yang Dinilai Ramah Lingkungan

Jasad yang berada di dalam peti mati atau tanah itu ternyata dapat menghasilkan gas metan dalam jumlah besar

2 November 2016 12:53 WIB

Anna Citelli and Raoul Bretzel menjadikan jasad manusia sebagai makanan pohon.
Anna Citelli and Raoul Bretzel menjadikan jasad manusia sebagai makanan pohon. Facebook/Capsula Mundi

LONDON, JITUNEWS.COM- Sebelum dimakamkan, jenazah biasanya diawetkan dengan cara disuntik formalin. Penggunaan formalin itu ternyata bisa merusak lingkungan. Apalagi jika jasad diletakkan ke dalam peti mati kemudian dikubur.

Jasad yang berada di dalam peti mati atau tanah itu ternyata dapat menghasilkan gas metan dalam jumlah besar. Gas itu termasuk dalam gas rumah kaca (green house gas/GHG) yang berbahaya bagi lingkungan. Jelaslah ini bukan praktik penguburan yang berkelanjutan bagi bumi

Dikutip dari Business Insider, sebenarnya ada beberapa cara untuk mengenang kerabat yang meninggal dengan cara yang tidak terlalu membahayakan bagi planet ini, seperti apa:


Biofoam, Solusi Kemasan Makanan Ramah Lingkungan

1. Jasad Diubah Jadi Makanan Tanaman

Dua perancang dari Italia, Anna Citelli and Raoul Bretzel, mengembangkan suatu praktik pemakaman berkelanjutan bagi Bumi. Jasad manusia mereka jadikan sebagai makanan untuk pohon.

Menggunakan Capsula Mundi, jasad manusia dikubur dalam posisi seperti janin dalam cangkang berbentuk telur yang akan terdegradasi secara biologis.

Setelah cangkang berisi jasad dimasukkan ke dalam tanah, di atasnya akan ditaruh benih pohon. Tujuannya, ketika cangkang mulai meluruh, jasad itu menjadi mineral yang memberi makan kepada tanaman. Bretzel dan Mundi berharap agar cara mereka dapat mengubah TPU menjadi "hutan suci".

2. Awetkan dengan Es Kering

Secara tradisional, jenazah kerap diawetkan dengan cara pembalseman agar proses peluruhan tidak segera berlangsung. Pengawetan itu biasanya dilakukan menggunakan formalin, suatu zat penyebab kanker. Tentunya, kanker itu berdampak bukan kepada jenazahnya, tapi kepada petugas.

Sekarang ini sudah ada beberapa pihak yang menggunakan es kering yaitu karbon dioksida beku. Dengan demikian, jenazah terawetkan lebih lama, walaupun es kering harus diganti setiap hari.

Karbon dioksida memang termasuk GHG, tapi jumlah gas yang dihasilkan oleh cara pengawetan ini cukup kecil dibandingkan keseluruhan emisi CO2.

3. Jasad Dilarutkan 

Jasad yang dikremasi sepertinya menjadi cara terbaik untuk penguburan berkelanjutan. Namun dalam banyak kasus, cara itu tidak ramah lingkungan.

Sebagai contoh, di Inggris, kremasi turut andil dalam polusi merkuri, hingga angka 16 persen. Lagi pula, seperti laporan The Atlantic, perlu bahan bakar setara 2 tangki SUV untuk kremasi satu jasad.

Sekarang ini, orang sudah mulai melongok 'kremasi hijau' yang dilakukan melalui hidrolisis alkalin.

Proses ini meluruhkan jenazah menjadi cairan, tapi akhirnya tubuh masih bisa dijadikan debu, walau dengan energi yang jauh lebih sedikit.

4. Perhiasan dari Jasad Manusia

Tidak tertarik dengan pemakaman berkelanjutan, tapi masih ingin meninggalkan kehidupan sambil meninggalkan kenang-kenangan? Ubahlah abu jenazah menjadi perhiasan.

Misalnya menjadi kalung kaca dari Grateful Glass yang memungkinkan abu jenazah kerabat yang dicintai diubah menjadi sesuatu yang indah.

Awetkan Jenazah Korban Trigana Air, Tim Evakuasi Siapkan Kontainer Pendingin

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro