logo


Strategi Jitu Kendalikan Hama Padi Secara Alami

Untuk menekan hama seperti wereng bisa dengan menumbuhkan jenis parasit pemangsa

25 Oktober 2016 16:43 WIB

Hama wereng.
Hama wereng. lestarimandiri.org

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Di tengah euforia musim tanam, petani Indonesia masih dihantui ancaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Berbagai cara ditempuh oleh para petani padi untuk mengusir dan meredam serangan hama tersebut, mulai dari menebar racun hingga menerangi sawahnya dengan lampu khusus penangkal hama.

Namun cara tersebut bukan jalan keluar yang benar. Banyak dampak buruk yang tak terpikirkan petani. Pasalnya, dengan menggunakan pestisida secara over dosis alias berlebihan justru akan membuat lingkungan pertanian rusak.

Dosen Proteksi Tanaman IPB, Nina Maryana, mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan ledakan populasi hama. Tapi, kata wanita yang akrab disapa Nina ini, umumnya hama muncul karena kesalahan prosedur pengendalian yang dilakukan manusia.


Inilah Tanaman Hias Amerika Tropis yang Menjadi Hama di Indonesia

“Alam sebenarnya sudah memiliki cara mengatur keseimbangannya sendiri. Contohnya hama wereng, sebenarnya ada pengendalinnya (secara alami). Tapi karena jumlahnya banyak, sedangkan pengendali di alam lebih sedikit sehingga tidak mampu menekan serangan. Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana pada akhirnya malah menekan pengendali alami dari hama tersebut,” kata Nina seperti dikutip dari tabloid sinar tani.

Hama seperti wereng, menurut Nina, memiliki genetik dan ketahanan terhadap pestisida yang bervariasi. Kekebalannya biasanya diturunkan ke generasi selanjutnya. Jadi jika petani menyemprotkan pestisida, maka populasi yang memiliki kekebalan tinggi tidak mati. Justru yang ter­jadi malah menghasilkan ketu­runan yang lebih kebal terhadap pestisida. Akibatnya bisa terjadi ledakan populasi hama wereng.

Faktor lain yang menyebabkan terjadi ledakan hama penyakit dari hasil kajian Tim Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB di 25 Kabupaten di Pulau Jawa, karena petani tidak mengembalikan jerami ke sawah. Akibatnya, bahan organik tanah kurang. Sedangkan kandungan N tunggal sangat besar karena adanya pemberian pupuk sintetik yang berlebihan.

“Kondisi tersebut diduga kuat menyebabkan serangan OPT seperti wereng batang cokelat, penyakit kresek, busuk pelepah dan busuk leher,” tutur Nina.

Nina menambahkan, pengendalian hama sebaiknya dilakukan tak hanya setelah petani menanam. Lebih baik jauh sebelum proses menanam seperti penggunaan bibit/benih unggul dan tersertifikasi hingga monitoring per­tumbuhan tanaman setiap fase.

Sedangkan untuk menekan hama seperti wereng bisa dengan menumbuhkan jenis parasit pemangsa. Parasit ini akan meletakkan telur di telurnya wereng, sehingga saat menetas, parasit ini akan memangsa telur sehingga tidak akan menjadi wereng.

Sebagian besar parasitoid ditemukan di dalam dua kelompok utama bangsa serangga, yaitu Hymenoptera (lebah, tawon, semut, dan lalat gergaji) dan bangsa Diptera (lalat beserta kerabatnya). Dalam bentuk dewasa, parasitoid ini memerlukan makanan berupa nektar dari bunga.

Karena itu menurut Nina, cara mudah bagi petani adalah menanam bunga aneka warna sebagai penarik datangnya berbagai musuh alami dari wereng. Tanaman bunga di pematang sawah juga bisa berguna menjadi tempat predator (pemangsa) dari hama.

“Jenis serangga dan laba-laba menjadi predator wereng yang terbaik karena memburu, memakan atau menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian,” tuturnya.

Berdasarkan kajian, penanaman tanaman wijen atau tanaman bunga di pematang sawah/area persawahan terbukti mampu meningkatkan parasit yang akan memangsa telur wereng batang cokelat.

Hal senada juga dikatakan Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara, Hermanu Triwidodo. Hermanu mengatakan, pengelolaan dan pengendalian hama tanaman padi bisa dengan meningkatkan peranan musuh alami generalis (pemakan banyak jenis mangsa dari kelompok yang berbeda) dan musuh alami spesialis (pemakan satu jenis mangsa) dengan cara pengelolaan habitat. Salah satunya dengan penyediaan tanaman penghasil nektar.

“Cara ini mampu menyediakan mangsa (hama) bagi predator sekaligus substrat tumbuh bagi mikroba serangga dan musuh dari patogen tanaman padi,” kata Hermanu.

Habitat tanaman bukan padi, termasuk yang berpotensi sebagai gulma merupakan komponen penting dalam ekosistem sawah. Sebab, tanaman tersebut berperan dalam penyediaan bahan organik dari sisa-sisa yang mati, tempat berlindung hingga penyedia makanan (nektar dan serbuk sari) bagi musuh-musuh alami hama padi.

“Jika habitat ini dijaga sedemikian rupa tanpa meng­ganggu tanaman padi maka akan bisa membantu pengendalian hama secara alami,” pungkas Hermanu.

Kementan Upayakan Langkah Cepat Atasi Serangan Hama

Halaman: 
Penulis : Riana