logo


Dikiritik Petani Banyak yang Miskin, Ini Jawaban Mentan

"Kita upayakan agar harga hasil pangan petani itu harus menguntungkan"

24 Oktober 2016 12:06 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. setkab.go.id

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Pemerintah, khsusunya Kementerian Pertanian (Kementan), hingga kini terus mendapat kritik dari banyak pihak. Sebab, peningkatan produksi pangan yang saat ini dilakukan Kementan berbanding terbalik dengan angka kemiskinan yang terus meningkat. Parahnya lagi, angka kemiskinan itu didominasi masyarakat pedesaan yang berprofesi sebagai petani.

Menanggapi kritik tersebut, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan target utama dari pemerintah adalah menyejahterakan para petani. Upaya untuk menyejahterakan petani, kata Amran, sudah dilakukan pemerintah melalui Kementan dengan berbagai terobosan di sektor pertanian.

“Langkah yang sudah kita ambil adalah meningkatkan produksi di sektor pangan dan saat ini sudah mulai kelihatan produksi kita terus meningkat,” ungkap Amran, Senin (24/10), di bilangan Senayan, Jakarta.


Bersama KLHK, GKPN Segera Buka Akses Lahan Tanam untuk Perambah Hutan

Lebih lanjut, Amran menegaskan, setelah ada upaya khusus pada peningkatan produksi, pemerintah juga akan mengupayakan langkah cepat menjaga harga komoditas pangan. “Kita upayakan agar harga hasil pangan petani menguntungkan,” imbuh Amran.

Ditambahkan Amran, saat ini pemerintah sudah sangat serius mengatasi masalah harga pangan. Upaya pemerintah dengan adanya Perpres baru yang mengatur kisaran harga komoditas pangan.

“Perpres ini termasuk salah satu Perpres yang sangat cepat. Hanya 1 minggu dibuat langsung ditandatangani oleh Presiden,” ujar Amran.

Salah satu contoh pembahasan yang ada dalam Perpres tersebut, terang Amran, adalah penetapan harga jagung di tingkat petani Rp 3.150 per kilogram. Dengan penetapan harga ini, para petani sudah sangat menikmati hasil produksinya sendiri.

“Dulu harga jagung kita Rp 1.000 per kilo, kalau harga jagung ini tetap di angka Rp 1.000, maka petani akan sangat rugi. Misalnya, harga jagung ada pada kisaran Rp 1.000 per kilo, coba kita kalikan kalau jagung petani ada 20 juta ton, maka kerugian para petani kita bisa mencapai Rp 20 triliun. Dan melalui Perpres ini, 20 triliun ini mau kita coba kembalikan,” tandas Amran.

Gabah Petani Dibeli dengan Harga Tak Sesuai, Mentan 'Semprot' Bulog

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Christophorus Aji Saputro
 
×
×