logo


Membangun Pondasi Ekonomi, Diceritakan dalam Buku Dua Tahun Jokowi

Eko menjelaskan presiden sangat serius membangun Indonesia dari pinggiran.

21 Oktober 2016 20:47 WIB

Peluncuran Buku “2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Akselerasi Mewujudkan Indonesia Sentris” di Aula Gd III Kemensetneg, Jakarta, Jumat (21/10).
Peluncuran Buku “2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK, Akselerasi Mewujudkan Indonesia Sentris” di Aula Gd III Kemensetneg, Jakarta, Jumat (21/10). Jitunews/Khairul Anwar

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Apabila satu tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo didampingi oleh Jusuf Kalla kata kuncinya adalah pondasi, maka pada tahun kedua (2015-2016) fokusnya kepada 'akseleraso' atau 'percepatan'. Itulah kenapa buku dua tahun pemerintahan Jokowi-JK yang diterbitkan oleh tim websites PresidenRI.go.id kantor staf presiden mengambil judul, 'Akselerasi Mewujudkan Indonesia Sentris'. 

Adapun peluncuran buku tersebut digelar di Kementerian Sekretaris Negara, Jumat (21/10).

Deputi IV kepala staf kepresidenan Eko Sulistyo sebagai penggagas terbitnya buku setebal 476 halaman ini, mengatakan pemerintah tahun kedua presiden Joko Widodo sebagai pekerjaan membangun pondasi ekonomi mempercepat pembangunan demi memenuhi janji kesejahteraan.


Wisatawan Asal Bogor Tenggelam di Sukabumi

Eko menjelaskan presiden sangat serius membangun Indonesia dari pinggiran, dari pulau-pulau terluar, dari daerah perbatasan dan dari bawaan Indonesia Timur terutama Papua, yang boleh dikatakan masih sebatas menikmati 'Indonesia' dalam makna kesatuan Republik Indonesia belaka, tapi belum menikmati makna keadilan dan kesejahteraan.

"Dengan Indonesia-Sentris, Presiden Jokowi ingin menyatakan bahwa Indonesia bukanlah sebuah persatuan yang abstrak, tapi betul-betul nyata dapat dinikmati," tukasnya.

Tenaga Ahli utama Kedeputian IV kantor staf presiden ini menekankan kelebihan ini ini karena setiap materinya ditulis lama setelah penataan presiden Joko Widodo disampaikan.

"Buku ini merekam langsung setiap peristiwa dan menuliskan perspektif pemerintah dari setiap konteks kebijakan," tuturnya.

Kemudian, kata Eko, tulisan dalam buku ini berasal dari arahan, ucapan pandangan dan penegasan presiden dalam berbagai kesempatan yang kemudian diberi konteks penjelasan dan artikulasi untuk memberi gambaran yang lebih utuh tentang arah pembangunan yang menjadi harapan dan keinginan presiden.

"Menyimak buku ini, pembaca dapat melihat kemana arah kapal besar bernama presiden akan didaratkan sebagaimana pemerintah secara bertahap dan terstruktur menuju cita-cita bangsa, masyarakat yang maju adil dan sejahtera," tutupnya.

Ruhut juga mengaku sudah dibujuk sejumlah partai politik dan menawarinya bergabung. Namun, ia mengaku tidak lagi memiliki niat menjadi anggota DPR periode selanjutnya.

"Ini terakhir. Jangan lihat di 2019 ada nama aku jadi caleg. Aku tidak mau lagi di Senayan jadi anggota DPR," kata politisi dari daerah pemilihan Sumatera Utara I itu.

Komisi Pengawas (Komwas) Demokrat telah merekomendasikan sanksi berat untuk Ruhut terkait sikapnya bergabung dalam tim sukses Ahok-Djarot.

Rekomendasi tersebut saat ini tengah diproses Dewan Kehormatan (Wanhor) Partai Demokrat sebelum menetapkan sanksi.

Kematangan Berpolitik dan Berdemokrasi Bangsa Indonesia Sudah Teruji

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Syukron Fadillah