logo


Masuki Tahun Ketiga, Jokowi Harus Mampu Kapitalisasi Parpol Pendukungnya

Harus ada dari pihak istana yang menghubungkan antara presiden dengan koalisi pendukung.

21 Oktober 2016 20:34 WIB

Peneliti LIPI Syamsuddin Haris.
Peneliti LIPI Syamsuddin Haris. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Peneliti LIPI Syamsuddin Haris mengatakan, tantangan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla di tiga tahun sisa pemerintahannya adalah bagaimana mengkapitalisasi partai-partai koalisi pendukung untuk mengefektifkan kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi-JK.

"Jangan sampai koalisi pendukung itu selesai ketika memberikan dukungan dengan dikompensasi dengan kursi kabinet, jangan seperti itu," ujarnya pada saat diskusi dan peluncuran buku dua tahun pemerintahan Jokowi-JK, di Aula Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Jumat (21/10).

Menurutnya, kebijakan pemerintah seperti visi politik maka harus didukung oleh koalisi pendukung, maka di sini presiden harus mampu menjinakan partai pendukung untuk tunduk kepada agenda-agenda presiden agar tidak muncul persepsi publik partai pendukung hanya sekedar bagi-bagi kekuasaan dan sejenisnya.


Bantu Korban Gempa, Tagana Asmat Terjun ke Palu

"Itu artinya, misalnya pemerintah mempunyai visi politik mengenai misalnya pemilu kita ke depan, demokrasi, maka mau tidak mau harus didukung oleh koalisi pendukung. Kalau tidak buat apa koalisi pendukung," tuturnya.

Oleh karena itu, kata Syamsuddin, harus ada dari pihak istana yang menghubungkan antara presiden dengan koalisi pendukung, sehingga koalisi pendukung mempunyai kontribusi dalam meningkatkan efektivitas pemerintahan.

"Ini menjadi penting bagaimana di dalam lingkup istana kepresidenan yang menghubungkan kepada koalisi pendukung. Saya khawatir memang gak ada, saya juga pastikan Pak Jokowi tidak menyukai model semacam ini. Di satu pihak lebih mengandalkan basis koalisi pendukung tapi di sisi lain beliau tidak mau yang gini-gini diformalkan, tapi paling tidak ada unit di istana yang bisa mengelola ini," tutupnya.

LIPI Sebut Pakar Gunung Api Hampir Punah di Indonesia, Begini Penjelasannya

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Syukron Fadillah