logo


Jurus Jitu PT Omega Taiyo Teknologi Atasi Lesunya Industri Otomotif Indonesia

Dalam dua tahun ini dunia otomotif roda dua mengalami perlambatan sangat signifikan sehingga penjualan sangat rentan

20 Oktober 2016 18:14 WIB

Mesin asal Taiwan yang digunakan untuk memproduksi onderdil otomotif.
Mesin asal Taiwan yang digunakan untuk memproduksi onderdil otomotif. VIVA.co.id

CIKARANG, JITUNEWS.COM- Perkembangan industri otomotif Indonesia masih belum menunjukkan tanda-tanda positif. Sampai saat ini, pertumbuhan kendaraan di Indonesia mengalami perlambatan secara signifikan.

Kendati demikian, lesunya industri otomotif tak selamanya membawa masalah. Salah satu perusahaan distributor alat industri dan manufaktur otomotif asal Taiwan, PT Omega Taiyo Teknologi (OTT), mencari cara baru dalam menghadapi kendala tersebut. Mereka berusaha mendiversifikasi varian produk yang mereka jual.

"Dalam dua tahun ini dunia otomotif roda dua mengalami perlambatan sangat signifikan sehingga penjualan sangat rentan.  Kita masih mencoba alternatif-alternatif lain yang kita ambil," ujar Direktur PT OTT, Subhan Hendro, Kamis (20/10), di Cikarang, Jawa Barat.


Pemerintah Harus Stimulus Industri Otomotif Agar Berkembang

Subhan mengaku, OTT mulai merambah pengadaan alat-alat untuk kebutuhan agrikultur, medis, dan makanan. Mereka mendistribusikan alat manufaktur sebagai pembantu penanaman di sektor pertanian, alat pembuat paper food untuk pembungkus makanan, serta mesin pembantu untuk membuat alat kesehatan seperti meja rawat maupun perlengkapan medis lainnya.

Berbekal peralatan dari hasil produksi dengan kualitas tinggi, serta harga yang terjangkau dan pelayanan purna jual yang maksimal, tak sedikit pengusaha Indonesia mulai melirik alat besutan Taiwan tersebut. Hal itulah yang menjadi penyelamat perusahaan.

"Dengan ada perlambatan otomotif, kita sangat ditopang oleh agricultur, kalau enggak begitu, kita bisa lebih parah lagi," ujar Subhan.

Meski bergerak di luar sektor otomotif, pendapatan OTT di bidang alat manufaktur otomotif tidak begitu jatuh secara signifikan. Saat ini OTT masih mampu meraup omzet hingga Rp 30 miliar per tahun di tengah kelesuan sektor otomotif.

Semua itu tidaklah sendiri. Peran rekan kerja serta para pengusaha Taiwan lain yang responsif sangat membantu Subhan dalam mengembangkan OTT. Di sisi pengusaha, para pebisnis Taiwan sangat mendengarkan keluhannya sebagai salah satu distributor mereka dengan cepat.

"Mereka sangat mau menerima kritikan. Saat kita beri masukan, mereka mau mengubah produk mereka dan customize," tutur Subhan.

Selain itu, pemerintah Taiwan juga sangat mendorong para distributor mereka. Subhan juga mendapat bantuan dana selama menjual peralatan Taiwan. Bahkan, lanjut Subhan, pemerintah sering menginisiasi pertemuan bagi para pelaku bisnis yang berhubungan dengan pebisnis Taiwan guna meningkatkan kualitas dan kuantitas mesin.

Oleh karena itu, mesin-mesin yang diproduksi OTT saat ini tak hanya menunjukkan performa dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. "Kita sangat bahagia di antara negara-negara ekspor mesin, pemerintah Taiwan support produksi alat mesin," tukas Subhan.

PPI: Industri Otomotif Butuh Insentif-insetif Baru

Halaman: 
Penulis : Christophorus Aji Saputro