logo


Kuota Impor Gula Rawan di Mark Up, Ini Penyebabnya

Kebutuhan akan gula rafinasi untuk kebutuhan industri tanah air mencapai 2,9 juta ton pada 2016

28 September 2016 15:37 WIB

Ilustrasi kegiatan ekspor impor gula.
Ilustrasi kegiatan ekspor impor gula. Istimewa

JAKARTA, JITUNEWS.COM- Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Arum Sabil mengatakan, pemberian izin impor yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan terhadap perusahaan-perusahaan tertentu, rawan di mark up kuotanya.

Pasalnya, perusahaan yang menguasai gula tanah air bisa dihitung dengan jari. Mereka, ungkap Arum, menguasai setiap lini perputaran gula tanah air hingga pengaruhi langkah impor.

“Yang lakukan langkah impor kan perusahaannya itu-itu aja. Jadi, sangat rawan sekali untuk digelembungkan jumlahnya,” kata Arum, Rabu (28/9), dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dewan Perwakilan Daerah (DPD), di bilangan Senayan, Jakarta.


Dinilai Tak Wajar, Menteri Pertanian Diduga Bermain Polemik Impor

Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kebutuhan akan gula rafinasi untuk kebutuhan industri tanah air mencapai 2,9 juta ton pada 2016, sementara untuk kebutuhan gula konsumsi mencapai 2,8 juta ton.

“Dari data itu, kalau kita total semuanya, kebutuhan gula nasional kita pada tahun 2016 mencapai 5,7 juta ton gula,” tambah Arum.

Arum menilai, data yang dikeluarkan oleh Kemenperin itu sangat tidak relevan. Pasalnya, dari hasil survei yang dilakukan oleh pihak APTRI, rata-rata penggunaan gula rafinasi untuk penduduk Indonesia rata-rata sekitar sembilan kilogram. Dengan jumlah penduduk Indonesia mencapai 255 juta jiwa, maka kebutuhan gula rafinasi untuk industri sekitar 2.295 juta ton.

Angka ini pun setara dengan gula yang digunakan rumah tangga dengan hitung-hitungan yang sama yakni 2.295 juta ton. Dengan total ini maka kebutuhan gula nasional mencapai 4,59 juta ton.

"Sekarang dengan hitung-hitungan ini ada selisih sekitar 11 juta ton gula. ‎Ini hanya untuk kepentingan impor saja," ujar Arum.

Selain itu, ditegaskan Arum, pada saat ini perusahaan gula dalam negeri yang berbahan baku tebu sebenarnya sudah mampu memproduksi gula kristal putih dengan rata-rata per tahun mencapai 2,5 juta ton. “Angka itu sebenarnya sudah hampir mencukupi kebutuhan gula rumah tangga,” tukas Arum.

PKB: Ya Memang Lucu, Sumber Daya Kita Melimpah Tapi Impor

Halaman: 
Penulis : Siprianus Jewarut, Christophorus Aji Saputro