logo


Budidaya Kol di Dataran Rendah

Harga jual kembang kol yang dibudidaya di dataran rendah ini juga lebih tinggi

17 November 2014 08:18 WIB

ISTIMEWA
ISTIMEWA

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Siapa bilang kembang kol dan kubis tidak bisa ditanam di dataran rendah (0-300 mdpl) seperti Jakarta dan sekitarnya. Anda bisa menemukan jawabannya jika berkunjung ke Depok, Jawa Barat. Di daerah  pinggiran  Jakarta ini bisa dijumpai beberapa lokasi budidaya kembang kol dan kubis, misalnya di Sawangan, Cilangkap, dan Tapos Depok. Adalah Saripudin yang akrab disapa Udin bersama sang sahabat, Hasnan Habib, yang berhasil membudidaya kubis dan kembang kol di dataran rendah.

“Dibandingkan kubis dan kembang kol yang berasal dari dataran tinggi, harga jual kubis dan kembang kol yang dibudidaya di dataran rendah ini juga lebih tinggi,” tutur Saripudin

Saripudin dan Hasnan berhasil membudidaya tanaman kol di dataran rendah baik di lahan maupun di pot. Meski tampak sama dengan budidaya sayuran lainnya, namun ada beberapa hal yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman kol ini, mulai dari struktur media tanam hingga pemeliharaan.


‘Hidroponik Asik’ Bersama DWP Bakamla RI

Penyemaian bibit. Pilih benih tanaman kol yang berwarna kuning kecoklatan dan berisi (tidak kempes/kopong). Siapkan polibag ukuran 10 cm, isi dengan media tanam berupa campuran tanah dengan hasil bakaran sampah organik (berupa sisa daun-daunan dan sampah rumah tangga yang bisa hancur) yang telah halus dan diayak, dengan komposisi tanah:sampah organik = 1:1. Sampah organik bisa diganti kompos. Lubangi bagian tengah media tanam dengan jari telunjuk sedalam 1 cm. Masukkan benih ke dalamnya dan semprot dengan air. Jangan lupa letakkan di lokasi yang terlindung matahari, misalnya dibantu dengan adanya paranet. Dalam waktu 1-3 hari mulai berkecambah. Risiko kegagalan benih menjadi bibit tanaman kol sekitar 1%.

Penanaman. Jika ingin ditanam dalam polybag saja atau dalam pot, bibit umur 21 hari bisa dipindahkan ke polibag yang ukurannya lebih besar. Barulah umur 1,5 bulan bisa dipindahkan ke dalam pot. Namun jika ingin ditanam di lahan bisa menggunakan bibit yang berumur 25 hari. Hati-hati dalam proses penggantian wadah, misalnya dari polibag kecil ke polibag besar atau ke lahan. Usahakan jangan sampai merusak perakaran yang sangat halus karena bisa menyebabkan kegagalan tanam. Caranya sebelum dipindahkan, tekan media tanam dengan jari tangan secara perlahan agar media dan akar lebih menyatu. Balik posisi tanaman, sehingga polybag berada di atas, tahan media tanam dan tanaman agar tidak tumpah ke bawah. Tarik polybag kecil agar bisa terlepas dari media. Segera tanam bibit bersama media tanam ke lahan atau ke dalam polibag yang ukurannya lebih besar dan telah berisi media tanam (komposisinya sama dengan media tanam pada proses pembibitan 1:1).

Jika penanaman dilakukan di lahan, sebaiknya siapkan lahan mulai dari pembentukan bedengan yang berukuran lebar sekitar 1 meter dengan panjang disesuaikan keadaan lahan dan tinggi bedengan sekitar 40 cm. Usahakan tanah yang digunakan benar-benar gembur dan telah dicampur dengan bakaran sampah organik yang telah halus. Sebelum lahan dicampur dengan bakaran sampah organik, sebaiknya dibiarkan terkena sinar matahari langsung selama 3-7 hari agar organisme pembawa penyakit mati.

Untuk penanaman tidak selalu dibutuhkan pupuk dasar berupa pupuk kandang. Jadi dalam hal ini pupuk tersebut bisa digunakan, bisa juga tidak. Jarak tanam yang bisa digunakan, yakni 40 x 40 cm atau 40 x 60 cm, sehingga dalam 1 ha lahan dibutuhkan 62 ribu bibit.

Pemeliharaan. Jika tanaman masih dalam polibag atau dalam pot, sebaiknya jangan terlalu sering disiram. Cek terlebih dahulu media tanamnya, jika terasa kering barulah disiram. Sebab jika terlalu lembab akan memacu kebusukan akar. Namun khusus di lahan, penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi hari.

Biasanya hama dan penyakit yang menyerang seperti keong, ulat dan kutu daun. Udin tidak menggunakan pestisida sintetik untuk mengatasinya, namun digantikan pestisida organik hasil buatan Udin berupa campuran bumbu dapur (kunyit, jahe, lengkuas, lempuyang, gadung, sereh, daun nimba, daun antawali, kecubung) yang aromanya tidak disukai hama. Pestisida organik dari Udin ini juga dijual seharga Rp 10 ribu/liter. Pemakaian pestisida ini dicampur dengan air saat penyiraman dengan kadar 1: 5 (1 liter pestisida alami dilarutkan dalam 5 liter air).

Karena pemberian pestisida organik tersebut dilakukan sekaligus penyiraman membuat tanaman sangat sehat sehingga tahan penyakit. Selama pemeliharaan, usahakan selalu membuang daun tua atau busuk, cek hingga ke sela-sela batang dan bagian bawah daun agar jika ada penyakit bisa segera ditangani dan hama bisa segera diusir.

Pemupukan bisa dilakukan setelah bibit dipindahkan dari polibag sebanyak 1 sendok makan  (10 gr) pupuk NPK 15:15:15 per bibit setiap 2 minggu sekali.

Panen. Tanaman kol di dataran rendah bisa dipanen umur 2,5 bulan sejak masa tanam. Risiko kematian bibit hingga tanaman kol siap panen sekitar 0.1%. Pada umur 2,5 bulan bobot crop (bagian yang dipanen di bagian tengah kembang kol maupun kubis) yang dihasilkan sudah mencapai sekitar 1,5 kg. Saat panen bagian bawah crop bisa dipotong, dan yang dijual bagian cropnya. Selanjutnya cabut/ganti tanaman secara keseluruhan. Agar tidak mendapat serangan hama secara besar-besar, lakukan penanaman dengan cara tumpang sari (penanamannya diiringi dengan tanaman lain di bagian pinggir bedengan) atau dengan rotasi tanaman (menanam jenis tanaman lain setelah kol).

 

 

 

Setahun Lebih Ditanam, PKK Jakarta Ikut Panen Perdana Jahe Merah

Halaman: 
Penulis : Riana
 
×
×