logo


Penjahat Prostitusi Anak untuk Kaum Gay Pantas Dihukum Berat

KUHP saat ini belum memuat hal-hal yang mengatur hukuman terhadap kejahatan semacam itu.

1 September 2016 16:09 WIB

Anggota Komisi VIII DPR RI Ledia Hanifa Amaliah.
Anggota Komisi VIII DPR RI Ledia Hanifa Amaliah. dakwatuna.com

JAKARTA, JITUNEWS.COM - Anggota Komisi VIII DPR RI Ledia Hanifa Amaliah berharap, pelaku dan pengguna dalam kasus penjualan anak untuk kaum gay yang terjadi di Puncak, Bogor, Jawa Barat, harus diberikan hukuman yang seberat-beratnya.

Hukuman yang pantas diberikan setidaknya di atas 10 tahun kurungan. Hukuman berati itu diperlukan karena kejahatan yang dilakukan sedianya menghancurkan sekaligus merusak generasi penerus Republik Indonesia.

"Selama ini di tahun 2015 hanya 11 persen pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang divonis 10 tahun ke atas," ujarnya di Jakarta, Kamis (1/9).


Prihatin Munculnya Komunitas Gay, KPAI Ajak Orangtua dan Sekolah Peka

Menurutnya, perilaku prostitusi sesama jenis sebagaimana yang dilansir media harus diperjelas hukumannya dan dicantumkan dalam revisi RUU KUHP.

Untuk pelaku atau korban anak harus segera direhabilitasi pada saat penetapan vonis terhadap pelaku. Kemudian putusannya harus disertai putusan untuk memberikan restitusi terhadap korban sebagaimana ditetapkan dalam UU 35 Tahun 2014.

Politisi PKS ini mengungkapkan kenapa hal tersebut perlu dilakukan, karena KUHP saat ini belum memuat hal-hal di atas, sehingga harus dimasukan dalam merevsi RUU KUHP tersebut.

"KUHP belum memuat sehingga harus dimasukkan untuk memperjelas," tuturnya.

Selain itu penambahan-penambahan tersebut di RUU KUHP juga untuk mencegah agar anak yang diperjualkan untuk kaum gay tidak melakukan hal serupa dikemudian hari. 


"Makanya perintah UU nya harus segera direhabilitasi. Restitusi (uang penggantian) bisa dipergunakan keluarga korban untuk membiayai rehabilitasi fisik dan psikisnya," tutupnya.

Kominfo Blokir Grup Gay di Facebook. KPAI: Di Daerah Lain Masih Banyak ...

Halaman: 
Penulis : Khairul Anwar, Syukron Fadillah